Juli 2009 - Bahasa Arab SDIT
Headlines News :

Standar Isi Kurikulum Bahasa Arab SDIT

Struktur Kurikulum dan Kegiatan tatap Muka
Mata Pelajaran Bahasa Arab
Sekolah Dasar Islam Terpadu
Kelas 1- 6





Diolah dari Standar Isi Jaringan Sekolah Islam Terpadu Indonesia 2011 dengan Penambahan Standar Kompetensi Terkait, tentang Kerangka Dasar dan struktur Kurikulum dan Beban Belajar

Selengkapnya download di sini!

Perlunya Menyeragamkan Kembali Alih Aksara Arab

http://www.proz.com/translation-articles/authors/1037215/Wiyanto-Suroso

Tulisan ini berawal dari kekurangnyamanan ketika membaca beragamnya cara penulisan kata yang berasal dari bahasa Arab di berbagai media seperti surat kabar, majalah maupun tulisan ilmiah. Apalagi penerjemahan buku-buku dari bahasa Arab ke Indonesia meningkat luar biasa dalam dasawarsa terakhir. Jelas saja hal ini membuat masyarakat bingung mengenai bagaimanakah sebenarnya cara penulisan yang tepat.

Apabila dilacak, hal ini disebabkan oleh alih aksara (transliterasi), alih bunyi (transkripsi), dan kata serapan dari bahasa Arab ke Indonesia. Ternyata bukan urusan yang sederhana.

Dalam hal alih aksara, dijumpai beberapa cara alih aksara yang berbeda dari Arab ke Latin dalam bahasa Indonesia. Padahal sebenarnya telah ada pedoman berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 22 Januari 1988.

Ketika dilacak, sumber kesulitan untuk menerapkan SKB tersebut ialah penggunaan sebagian huruf dalam SKB tersebut yang sulit atau bahkan tidak dapat diketik. Maksudnya, penggunaan tanda titik di atas huruf s dan z maupun di bawah huruf h, s, d, t, dan z. Kita ambil contoh mengenai berbagai jenis huruf “s”:
- huruf ke-4 “tsa” ditulis “s” dengan titik di atasnya;
- huruf ke-12 “sin” ditulis “s”;
- huruf ke-13 “syin” ditulis “sy”; dan
- huruf ke-14 “shad” ditulis “s” dengan titik di bawahnya.

Akibatnya, berbagai pihak yang berkepentingan (karena setiap saat berhubungan dengan hal ini) berupaya menetapkan pedoman alih aksara sendiri guna memudahkan pengetikan. Terutama hal ini tampak pada sebagian besar penerbit buku keislaman yang menerjemahkan buku-buku dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia meskipun beberapa penerbit tetap mengikuti SKB. Sebagian perguruan tinggi Islam pun menggunakan pedoman alih aksara yang berbeda-beda untuk kalangan sendiri.

Dalam hal ini, alih aksara yang diterapkan oleh sebagian besar penerbit buku keislaman semakin diterima oleh masyarakat. Contoh di atas diubah menjadi:
- huruf ke-4 “tsa” ditulis “ts”;
- huruf ke-12 “sin” ditulis “s” (tetap);
- huruf ke-13 “syin” ditulis “sy” (tetap); dan
- huruf ke-14 “shad” ditulis “sh”.

Sebagai contoh ialah beragamnya cara penulisan nama masjid di Palestina yang sedang menjadi berita hangat di media massa. Ada yang menulis Masjid Al Aqsha, Al Aqsa atau sebagaimana pengucapannya, yaitu Al Aqsho, Al Aqso. Atau memisahkan “Al” dengan tanda hubung. Atau menuliskan “al” dengan “a” dalam huruf kecil.

Pertama-tama, kita perlu mencari tahu terlebih dahulu penulisan dalam bahasa aslinya. Ternyata memakai huruf “shad”, berarti “sh” dalam alih aksara.

Kita mengetahui bahwa harakat (tanda baca) dalam bahasa Arab ada tiga buah, yaitu: “a, i, dan u”. Oleh karena itu, meskipun dibaca “o”, namun ditulis “a”. Disamping itu, Departemen Agama belakangan ini memakai tanda hubung setelah “Al”.

Dengan demikian, cara penulisannya ialah Masjid Al-Aqsha atau setidaknya Masjid Al Aqsha. Keduanya dibolehkan dipakai pada waktu ini.

Oleh karena SKB tidak berterima sampai sekarang, mengapa pedoman tersebut tidak diperbarui saja supaya ada keseragaman alih aksara?

Saya mendukung pendapat sebagian ahli bahasa bahwa alih aksara kata Arab (termasuk nama orang dan negara) semestinya merujuk langsung dari huruf dan bahasa Arab, bukan melalui ejaan bahasa barat seperti Inggris atau Perancis di media massa. Sebagai contoh, menulis kota di negara Oman dengan “Muscat” (dari alih aksara ke bahasa Inggris). Banyak orang tidak tahu bahwa orang sana membacanya “Masqot” sehingga kita seharusnya menuliskannya “Masqat”.

Ada kecenderungan bahwa Pusat Bahasa ingin menyederhanakan ejaan pengalihan kata dari bahasa Arab dalam menyerap ke dalam bahasa Indonesia. Kecuali untuk kata-kata yang telah lama terserap ke dalam bahasa Indonesia, cara penyederhanaan ini kurang berkenan bagi sebagian besar bangsa Indonesia yang muslim. Sedikit berbeda ejaan, arti dapat berbeda jauh. Untuk itu, Pusat Bahasa patut memahami perasaan sebagian besar bangsa ini. Misalnya kitab suci “Al-Qur’an” seyogyanya ditulis seperti ini alih-alih “Alquran” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang tidak berterima.

Ini baru sebagian dari permasalahan alih aksara dari bahasa Arab ke Indonesia yang masih mengganjal, terutama dalam kaitannya dengan melonjaknya jumlah buku terjemahan dari bahasa Arab ke Indonesia. Masih banyak lagi yang perlu dibahas.

Sekaligus untuk Departemen Agama, Departemen Pendidikan Nasional, dan Pusat Bahasa, bagaimana tindak lanjutnya?

Pentingnya Pembelajaran Bahasa Arab pada Usia Dini

MUHAMMAD RAJAB
Bahasa Arab merupakan bahasa yang unik dibanding bahasa Inggris atau bahasa asing yang lain. Untuk memelajarinya saja, ada beberapa disiplin ilmu yang memiliki perbedaan signifikan. Ilmu Nahwu lebih menekankan pada mabni ¬dan mu’rob (menetukan harkat terkhir). Ilmu Shorof lebih menekankan pada shiyagul kalimat (perubahan bentuk kata). Sedangkan ilmu Balaghah cenderung mempelajari sastra Arab.
Hal lain yang membedakan, satu kata dalam bahasa Arab bisa dipecah menjadi beberapa kata yang berbeda arti, makna, serta kedudukannya. Ini sangat berbeda dengan bahasa Inggris dimana kata yang dapat dipecah dari bentuk dasar kata, kurang lebih lima bentuk kata. Makanya terkadang orang menjadi malas memelajari bahasa Arab sebab banyak kata yang berbeda makna meski hanya berasal dari satu kata.
Sebagai bangsa dengan mayoritas pendidik beragama Islam, tentunya bahasa Arab punya banyak manfaat bila dipelajari. Penulis bukannya menjustifikasi bahwa selain muslim tidak boleh belajar bahasa Arab, namun tidak ada salahnya bila penulis menyebutkan beberapa kelebihan bahasa Arab dalam perspektif Islam. Pertama, bahasa Arab merupakan bahasa kitab suci Alquran.
Tentunya, kita akan bisa memahami Alquran kecuali dengan benar dan baik dari segi nahwu, shorof maupun balaghahnya. Kedua, sebagai ilmu alat bahasa Arab dapat digunakan untuk menggali ilmu pengetahuan, khususnya ilmu-ilmu agama. Karena Islam pada mulanya muncul di negeri Arab jadi ilmu-ilmu Islam mayoritas berbahasa Arab.
Bahasa Arab bisa digunakan menggali ilmu fikih dan hadits serta ilmu-ilmu yang lain.
Untuk meningkatkan minat pelajar terhadap bahasa Arab, hendaknya bahasa Arab diperkenalkan kepada anak sejak dini. Seperti halnya minat pelajar ke bahasa Inggris yang tinggi, dimana salah satunya dikarenakan bahasa Inggris sudah diperkenalkan kepada anak sejak dini. Bahkan sekarang di Sekolah Dasar sudah diajarkan bahasa Inggris. Tentu tidak salah bila bahasa Arab juga diajarkan sejak dini.
Selain itu, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya yang berasal dari barat, terkadang juga menjadi sebab bagi sebagian kalangan untuk tidak mempelajari bahasa Arab. Disebabkan karena waktu yang tersedia terbatas, sehingga tidak ada ruang untuk menyempatkan diri belajar bahasa Arab.
Bagi sekolah-sekolah yang berbasis Islam, pembelajaran bahasa Arab seharusnya lebih diperhatikan dan lebih diperhitungkan dari bahasa yang lain. Satu hal yang perlu diingat, khususnya bagi guru bahasa Arab, bahwa metode yang dipakai dalam menyampaikan pelajaran bahasa Arab kepada anak hendaknya dibedakan dengan metode yang dipakai untuk orang dewasa. Ini penting agar pembelajarannya bisa maksimal.
Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengajarkan bahasa Arab pada anak usia dini adalah dengan membawa alat peraga. Alat peraga ini dimaksudkan untuk lebih menguatkan anak dalam mengingat kosa-kata yang telah diberikan. Jadi, ketika memberikan kosa-kata, anak dapat melihat langsung maksud ataupun arti dari kosa kata tersebut, walaupun guru tidak menulisnya di papan tulis. Anak dapat melihat langsung secara empiris. Jika ditinjau dari segi kognitif, metode seperti ini lebih efektif dari pada menulis arti kosa kata di papan tulis.
Misalnya, seorang guru mau memberikan kosa kata tentang binatang. Maka guru harus menunjukkan gambar atau boneka yang berbentuk binatang. Dengan itu akan lebih cepat ditangkap dan dipahami oleh anak. Karena selain mendengar, visual anak bisa melihat langsung secara empiris. Metode seperti ini jika dikaitkan dengan konsep pendidikan modern, dapat dikatakan sebagai salah satu aplikasi konsep CTL (Contextual Teaching and Learning) yang masih belum dipraktekkan secara menyeluruh oleh para guru, khususnya di daerah-daerah terpencil.
Beberapa penyebab kemalasan dalam mempelajari bahasa Arab di atas sebenarnya bisa menjadi penyemangat bahkan sebenarnya mempermudah kita dalam mempelajarinya. Kita harus sadar akan keunikan tersebut. Misalnya, satu kata bisa menjadi beberapa kata bahkan sampai seratus kata yang berlainan makna dan kedudukan. Ini sebenarnya mempermudah bagi kita dalam menghafal beberapa arti kata, karena kita hanya cukup memecahnya dari satu kata. Contoh, kata kataba (menulis) bisa dipecah menjadi kitabatan (tulisan), kitaban (buku), maktaban (meja), maktabatan (perpustakaan) dan lain sebagainya.

TEKA-TEKI SILANG DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB SD

Drs. Muhaiban

Pendahuluan
Kenyataan di lapangan banyak menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa
Arab di madrasah –baik ibtida-iyyah, tsanawiyyah, maupun ‘aliyah- cenderung
monoton dan membosankan. Hal tersebut akan berdampak pada siswa dalam
mengikuti pembelajaran. Mereka dapat merasa bosan, jenuh, dan tidak bersemangat,
yang akhirnya berakibat pada tidak disenanginya bahasa Arab oleh siswa atau bahasa
Arab dianggap sebagai bahasa yang sulit dipelajari.
Kenyataan seperti itu sebenarnya tidak perlu terjadi apabila para guru
memiliki kesadaran untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya dengan melakukan
berbagai variasi pembelajaran. Variasi tersebut dapat dilakukan pada berbagai aspek
pembelajaran seperti aspek materi, metode, media pembelajaran, dan tempat. Untuk
menggairahkan minat belajar siswa, guru juga dapat menggunakan berbagai teknik
pembelajaran. Di antara teknik yang dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa

Arab, utamanya untuk anak-anak, adalah teknik bermain.
Salah satu bentuk permainan yang dapat dimanfaatkan sebagai teknik
pembelajaran bahasa Arab oleh guru adalah teka-teki silang. Makalah kecil ini
berupaya untuk mengenalkan serba sedikit tentang teka-teki silang dan
pemanfaatannya sebagai teknik pembelajaran bahasa Arab bagi anak-anak di
madrasah ibtidaiyyah
Pentingnya Teknik Bermain dalam Pembelajaran
Bermain adalah sebuah aktifitas yang disukai oleh manusia. Apapun bentuk
permainannya. Bahkan bermain bukanlah monopoli anak-anak. Dengan bermain
seseorang tidak saja dapat menghilangkan kejenuhan, kebosanan, rasa malas, dan
keruwetan pikiran, tetapi dengan bermain seseorang juga bisa memperoleh hiburan,
kesenangan, pengalaman, pengetahuan, variasi dari rutinitas, bahkan teman.
Oleh karena itu permainan dapat dimanfaatkan sebagai media dan sekaligus
teknik pembelajaran. Hal ini telah lama disadari oleh para ahli pendidikan sehingga
lahirlah prinsip bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain. Dengan
bermain, pembelajaran akan berlangsung dalam suasaana yang menyenangkan, wajar,
dan alami. Dalam suasana yang demikian, transfer informasi, pengalaman, atau
keterampilan dapat berlangsung “tanpa terasa”, sehingga siswa tidak merasa digurui
atau dipaksa untuk belajar.
Dari uraian di atas berikut ini dikemukakan beberapa faktor mengenai
pentingnya permainan sebagai teknik pembelajaran (Asrori, 1995).
1. Permainan mampu menghilangkan kebosanan
2. Permainan memberikan tantangan untuk memecahkan masalah dalam suasana
gembira
3. Permainan menimbulkan semangat kerja sama sekaligus persaingan yang sehat.
4. Permainan membantu siswa yang lamban dan kurang motivasi
5. Permainan mendorong guru untuk selalu kreatif.
Beberapa Prinsip Penggunaan Teknik Bermain dalam Pembelajaran
Agar pembelajaran dapat berlangsung efektif dan efisien, guru perlu
memperhatikan prinsip-prinsip penggunaan teknik permainan tersebut dalam
pembelajaran. Berikut ini beberapa prinsip tersebut (Hidayat dan Tatang, 1980 dalam
Asrori, 1995).
1. Permainan apapun yang akan dilaksanakan harus menjadi cara pendekatan
mencapai tujuan belajar mengajar
2. Setiap permainan harus diberi peraturan yang jelas dan tegasuntuk ditaati
semua pihak
3. Dalam permainan beregu harus dusahakan pembagian regu secara seimbang
4. Permainan sebaiknya melibatkan sebanyak mungkin siswa (siswa yang
menjadi penonton pun harus diberi tugas tertentu, misalnya mengatur waktu,
menjumlah nilai dan sebagainya)
5. Permainan harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa
6. Permainan sebaiknya tidak dilaksanakan pada awal pelajaran di kala siswa
masih dalam keadaan segar. Sebaliknya, permainan sebaiknya dilaksanakan
menjelang akhir pelajaran, yakni pada waktu gairah belajar siswa mulai
menurun.
7. Guru harus betul-betul bertindak sebagai pengelola suatu permainan. Oleh
karena itu ia harus menampilkan peran yang menimbulkan motivasi bermain
bagi murid-muridnya (riang, lincah, tetapi tegas dan tidak memihak)
8. Sebaiknya permainan dihentikan ketika murid masih tenggelam dalam
keasyikan.
Teka-teki Silang Sebagai Teknik Pembelajaran Bahasa Arab
Pengertian
Teka-teki silang merupakan salah satu bentuk permainan bahasa. Permainan
ini dapat digunakan sebagai teknik untuk melatihkan penguasaan kosa kata dan
keterampilan membaca. Media yang diperlukan untuk permainan ini adalah gambar
yang di dalamnya terdapat rangkaian kotak bujur sangkar aatau persegi empat sama
sisi. Kotak-kotak tersebut sebagian berwarna putih dan yang lain berwarna hitam.
Pada sebagian kotak berwarna putih diberi nomor yang mengindikasikan nomor
jawaban. Dalam permainan, kotak berwarna putih itu harus diisi dengan huruf-huruf.
Susunan huruf-huruf tersebut baik secara horisontal maupun vertikal akan membentuk
kata yang merupakan jawaban dari pertanyaan yang ada Pertanyaan terdiri dari dua
macam, yaitu pertanyaan untuk jawaban yang harus ditulis secara horisontal
(mendatar) dan pertanyaan untuk jawaban yang harus ditulis secara vertikal
(menurun). Pertanyaan biasanya ditulis di bawah atau di samping gambar.
Contoh 1.
1 2 3
4
5 6
7 8
9 10
11
Contoh 2:
1 2 3
4
5 6
7 8
9 10
11
Mendatar:
1………..
2………..
Menurun:
………
………
Mendatar:
1………..
2………..
Menurun:
……

……

Cara Pembuatan
Sebelum membuat media teka-teki silang, terlebih dahulu guru harus
menyiapkan sejumlah kosa kata yang akan dilatihkan. Kosa kata tersebut dapat
diambil dari buku teks bahasa Arab atau dari buku lain sesuai dengan tingkat
kesulitan kosa kata yang diperlukan.
Sesudah itu, guru menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan berikut ini.
1. Kertas HVS kuarto
2. Penggaris
3. Pensil, ball point, spidol warna hitam
4. Karet penghapus
Proses pembuatannya adalah sebagai berikut.
1. Gambarlah bujur sangkar ukuran 10 cm x 10 cm atau sesuai selera
2. Bagilah menjadi bujur sangkar-bujur sangkar kecil ukuran 1cm x 1cm
3. Hitamilah sejumlah bujur sangkar kecil tersebut
4. Isilah blok-blok kecil (yang tidak dihitami) dengan huruf-huruf dari kosa kata
yang telah disiapkan (gunakan pensil!)
5. Tulislah soal di sisi kanan atau di bawah bujur sangkar besar sesuai dengan
kelompoknya, mendatar atau menurun, berdasarkan kosa kata tersebut (No.
4).
6. Salinlah kosa kata tersebut (No. 4) pada kertas lain sebagai kunci jawaban
7. Hapuslah kosa kata pada bujur sangkar-bujur sangkar kecil tersebut (No. 4)
8. Fotokopilah lembar teka-teki silang tersebut sesuai dengan jumlah siswa.
Prosedur Permainan
1. Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok
2. Setiap kelompok diberi selembar teka-teki silang yang sama
3. Setiap kelompok mengisi teka-teki itu dalam tempo yang telah disepakati
bersama
4. Setelah selesai, setiap kelompok membacakan hasil kerjanya secara bergantian
5. Guru mengoreksi hasil kerja kelompok, sekaligus menentukan pemenang
6. Kalau memungkinkan, guru memberikan hadiah kepada kelompok pemenang
Variasai
1. Teka-teki slang dapat dikerjakan siswa di rumah sebagai PR
2. Guru dapat membuat teka-teki silang “raksasa” dari triplek melamin yang
ditempatkan di depan kelas.

Pengembangan Metode Permainan dalam Pembelajaran Bahasa Arab

Sakri Selasa, Mei 26, 2009

Pendahuluan
Bahasa Arab merupakan salah satu mata pelajaran yang membutuhkan kemampuan guru dalam mengelola kelas, terutama kemampuan guru dalam memanfaatkan media yang bisa menciptakan suasana nyaman dan menyenangkan sehingga dapat menarik minat dan mengaktifkan siswa untuk mengikuti pelajaran baik secara mandiri ataupun kelompok. Sejauh ini belajar bahasa Arab masih kurang diminati masyarakat jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa yang lain. Hal ini karena pada umumnya bahasa Arab tidak menggema dalam lingkungan kehidupan sehari-hari. Untuk itu perlu adanya suasana yang dapat menumbuhkan minat siswa yang lebih akan belajar bahasa arab. Salah satu cara untuk menciptakan suasana nyaman dan menyenangkan dalam pembelajaran adalah dengan bermain. Oleh karena itu dibutuhkan suatu media pembelajaran yang dapat menarik minat dan mengaktifkan semua siswa dalam proses belajar mengajar bahasa arab.
Di antara metode pembelajaran yang diduga dapat memberikan perbaikan dan peningkatan mutu pembelajaran tersebut adalah pembelajaran kooperatif. Dalam pembelajaran kooperatif, terdapat berbagai model pembelajaran yang bisa diterapkan untuk pembelajaran bahasa Arab. Diantaranya adalah model jigsaw dalam pembelajaran qowa’id, model program macromedia flash untuk materi al-a'mal al-yaumiyyah, penggunaan TTS untuk meningkatkan pemerolehan kosakata, penggunaan lagu untuk meningkatkan hasil belajar siswa, penggunaan kartu kata dan kartu bergambar untuk meningkatkan prestasi siswa, penerapan media permainan ular tangga untuk meningkatkan perolehan kosa kata, dan masih banyak lagi media permainan yang dapat digunakan untuk meningkatkan minat siswa terutama untuk menunjang keberhasilan proses belajar mengajar.
Dengan kata lain, peran media permainan tak kalah pentingnya dengan peran kompetensi guru yang memadai dalam proses belajar. Hal ini disebabkan karena media permainan dapat memberikan peluang yang lebih dalam memperoleh hasil pembelajaran yang maksimal jika dibandingkan dengan proses pembelajaran yang mengabaikan media permainan sebagai penunjang keberhasilan pembelajaran. Untuk itu, ada baiknya kita memberikan perhatian akan pengembangan media permainan dalam suatu proses belajar mengajar.

• Pembahasan
 Prinsip-prinsip pengajaran Bahasa Arab (asing)
Ada lima prinsip dasar dalam pengajaran bahasa Arab asing, yaitu prinsip prioritas dalam proses penyajian, prinsip koreksitas dan umpan balik, prinsip bertahap, prinsip penghayatan, serta korelasi dan isi;
1.Prinsip prioritas
Dalam pembelajaran Bahasa Arab, ada prinsip-prinsip prioritas dalam penyampaian materi pengajaran, yaitu; pertama, mengajarkan, mendengarkan, dan bercakap sebelum menulis. Kedua, mengakarkan kalimat sebelum mengajarkan kata. Ketiga, menggunakan kata-kata yang lebih akrab dengan kehidupan sehari-hari sebelum mengajarkan bahasa sesuai dengan penutur Bahasa Arab.
1) Mendengar dan berbicara terlebih dahulu daripada menulis. Prinsip ini berangkat dari asumsi bahwa pengajaran bahasa yang baik adalah pengajaran yang sesuai dengan perkembangan bahasa yang alami pada manusia, yaitu setiap anak akan mengawali perkembangan bahasanya dari mendengar dan memperhatikan kemudian menirukan. Hal itu menunjukkan bahwa kemampuan mendengar/menyimak harus lebih dulu dibina, kemudian kemampuan menirukan ucapan, lalu aspek lainnya seperti membaca dan menulis.
2) Mengajarkan kalimat sebelum mengajarkan bahasa. Dalam mengajarkan struktur kalimat, sebaiknya mendahulukan mengajarkan struktur kalimat/nahwu, baru kemudian masalah struktur kata/sharaf. Dalam mengajarkan kalimat/jumlah sebaiknya seorang guru memberikan hafalan teks/bacaan yang mengandung kalimat sederhana dan susunannya benar. Oleh karena itu, sebaiknya seorang guru bahasa Arab dapat memilih kalimat yang isinya mudah dimengerti oleh peserta didik dan mengandung kalimat inti saja, bukan kalimat yang panjang (jika kalimatnya panjang hendaknya di penggal – penggal).
3) Dalam tahap awal pembelajaran, siswa terlebih dahulu diperkenalkan dengan kosa kata yang lebih akrab dalam sehari-hari. Hal ini bertujuan agar kata-kata tersebut dapat dipergunakan secara langsung dalam percakapannya. Sehingga memudahkan siswa untuk mengingatnya. Siswa terlebih dahulu di hadapkan dengan bahasa yang di kenal sehari hari sebelum diperkenalkan dengan bahasa sesuai dengan penutur aslinya., agar memudahkan siswa pada tahap berikutnya. Karena siswa sudah terlebih dahulu diperkenalkan dengan bahasa yang akrab dengan kesehariannya, maka akan mempermudah guru pada tahap perkanalan bahasa sesuai dengan penutur aslinya. Dengan demikian proses pengenalan bahasa pada anak akan berjalan dengan sistematis.
2.Prinsip korektisitas
Prinsip ini diterapkan ketika sedang mengajarkan materi fonetik, sintaksis, dan semiotik. Maksud dari prinsip ini adalah seorang guru bahasa Arab hendaknya jangan hanya bisa menyalahkan pada peserta didik, tetapi ia juga harus mampu melakukan pembetulan dan membiasakan pada peserta didik untuk kritis pada hal-hal berikut: Pertama, korektisitas dalam pengajaran fonetik. Kedua, korektisitas dalam pengajaran sintaksis. Ketiga, korektisitas dalam pengajaran semiotik.
Korektisitas dalam pengajaran fonetik melalui latihan pendengaran dan ucapan. Jika peserta didik masih sering melafalkan bahasa ibu, maka guru harus menekankan latihan melafalkan dan menyimak bunyi huruf Arab yang sebenarnya secara terus-menerus dan fokus pada kesalahan peserta didik.
Korektisitas dalam pengajaran sintaksis ditekankan pada pengaruh struktur bahasa ibu terhadap Bahasa Arab. Misalnya, dalam bahasa Indonesia kalimat akan selalu diawali dengan kata benda (subyek), tetapi dalam bahasa Arab kalimat bisa diawali dengan kata kerja.
Korektisitas dalam pengajaran semiotik dilakukan dengan memperhatikan hal berikut: dalam bahasa Indonesia pada umumnya setiap kata dasar mempunyai satu makna ketika sudah dimasukan dalam satu kalimat. Tetapi, dalam bahasa Arab, hampir semua kata mempunyai arti lebih dari satu, yang lebih dikenal dengan istilah mustarak (satu kata banyak arti) dan mutaradif (berbeda kata sama arti). Oleh karena itu, guru bahasa Arab harus menaruh perhatian yang besar terhadap masalah tersebut. Ia harus mampu memberikan solusi yang tepat dalam mengajarkan makna dari sebuah ungkapan dengan petunjuk yang jelas.
3.Prinsip Berjenjang
Jika dilihat dari sifatnya, ada 3 kategori prinsip berjenjang, yaitu: pertama, pergeseran dari yang konkrit ke yang abstrak, dari yang global ke yang detail, dari yang sudah diketahui ke yang belum diketahui. Kedua, ada kesinambungan antara apa yang telah diberikan sebelumnya dengan apa yang akan ia ajarkan selanjutnya. Ketiga, ada peningkatan bobot pengajaran terdahulu dengan yang selanjutnya, baik jumlah jam maupun materinya.
 Hubungan kompetensi guru dengan minat belajar siswa dalam belajar bahasa Arab.
Banyak faktor sebagai penambah minat siswa dalam belajar, termasuk dalam belajar Bahasa Arab, diantara penambah minat tersebut adalah kompetensi guru mata pelajaran yang bersangkutan. Guru mata pelajaran Bahasa Arab merupakan pemegang peranan penting dalam meningkatkan minat belajar siswa dalam mata pelajaran Bahasa Arab di dalam madrasah. Oleh karena itu guru mata pelajaran Bahasa Arab dituntut untuk memiliki potensi dalam upaya meningkatkan pengetahuan siswa pada mata pelajaran Bahasa Arab tersebut. Guru mata pelajaran Bahasa Arab tidak hanya berfungsi sebagai orang dewasa yang bertugas secara profesional untuk menyalurkan ilmu pengetahuan Bahasa Arab kepada siswa, melainkan lebih dari itu, ia juga menjadi pemimpin, pendidik dan pembimbing bagi siswa – siswanya di dalam kelas dan di madrasah.
Guru mata pelajaran Bahasa Arab yang berkualitas harus mampu melakukan tugas dan tanggung jawab secara profesional bagi peningkatan minat belajar siswa dalam mata pelajaran tersebut. Untuk itu, orang yang diserahkan tugas untuk mengajar dan mendidik haruslah orang yang mengerti dalam melaksanakan proses belajar mengajar pada mata pelajaran tersebut. Karenanya, guru mata pelajaran Bahasa Arab tidak hanya sekedar bertugas dalam mentransfer pengetahuan Bahasa Arab kepada siswa-siswanya. Tetapi lebih dari itu, sesuai dengan tujuan pendidikan Bahasa Arab secara luas, maka diupayakan usaha-usaha pengembangan kualitas, keahlian, kemampuan dan disertai pula dengan kepribadian yang mantap untuk keberhasilan tugas sebagai seorang guru mata pelajaran Bahasa Arab.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kompetensi guru erat hubungannya dengan minat siswa dalam belajar Bahasa Arab. Semakin baik kompetensi guru yang mengajar semakin memiliki wawasan keilmuan, semakin luas wawasan keilmuannya maka akan menambah minat siswa dalam belajar Bahasa Arab di dalam kelas.
 Pengembangan media permainan dalam pembelajaran bahasa Arab.
Penggunaan media yang menarik akan mempengaruhi minat siswa dala belajar. Semakin banyak fariasi yang dimiliki seorang guru dalam mengajarkan bahasa pada anak didiknya, semakin besar minat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Namun demikian, permainan yang disajikan oleh seorang guru untuk anak didiknya haruslah sesuai dengan koridor dan etika yang ada. Jangan sampai metode yang awalnya bertujuan baik, harus dihilangkan karena bertentangan dengan etika yang ada. Untuk itu, guru harus memberikan perhatian yang lebih akan hal ini.
Banyak hal yang bisa digunakan guru dalam mengembangkan minat siswa akan pembelajaran bahasa Arab. Sebagai contohnya penggunaan media yang telah digemari sebelumnya oleh para siswa, yaitu media elektronik salah satunya adalah computer. Media pembelajaran berbasis komputer merupakan salah satu variasi penggunaan media pendidikan modern yang digemari oleh para siswa. Salah satu program komputer yang dapat menjadi media pendidikan adalah macromedia flash yaitu program animasi yang telah banyak digunakan untuk menghasilkan desain dan berguna untuk animasi interaktif. Media ini memiliki kemampuan dalam mengintergrasikan komponen warna, musik dan animasi grafik. Media ini juga
mampu memberikan balikan sehingga siswa dapat aktif berinteraksi dengan media yang diproduksi.
Selain tersebut diatas, masih banya lagi media permainan yang dapat dimanfaatkan guru dalam pembelajaran bahasa. Diantaranya adalah penggunaan media permainan ular tangga dalam upaya memperkaya siswa akan kosa kata bahasa. Dalam hal ini, pada setiap gambar yang ada dalam kotak papan permainan dilengkapi dengan maknanya dalam bahasa arab. Selain itu pada dadu yang di gunakan tertulis angka dengan bahasa arab, bukan dengan angka yang ada pada umumnya. Maka permainan ini akan sangat membantu siswa dalam memperoleh dan mengingat kosa kata baru yang belum diketahui sebelumnya.
Penggunaan permainan jigsaw juga sangat membantu siswa dalam memperoleh kosa kata baru. Dalam permainan ini siswa dituntut untuk mecocokkan satu kotak jigsaw dengan kotak jigsaw yang lain. Jika satu kotak jigsaw bertuliskan angka 3 dalam bahasa arab, maka siswa harus mencari penulisan yang tepat dan sesuai dengan angka tersebut, begitu seterusnya. Agar permainan ini lebih variatif, maka bukan hanya angka saja yang disajikan dalam kotak jigsaw tersebur. Dapat pula di sajikan dalam bentuk gambar agar terlihat lebih menarik. Metode permainan ini mirip dengan penggunaan kartu kata dan kartu bergambar dalam usaha pengembangan kosa kata siswa. Dan masih banyak lagi permainan yang dapat mendukung keberhasilan siswa dalam belajar bahasa arab.
• Analisis
Dalam proses belajar mengajar kita perlu memperhatikan tentang minat siswa dalam belajar. Karena proses belajar mengajar tidak akan terselenggara dengan baik jika tidak diikiuti dengan minat yang kuat dari siswa yang mengikuti proses belajar itu sendiri. Untuk itu hendaknya guru mampu menimbulkan minat yang kuat pada anak didiknya. Dalam suatu proses belajar mengajar, antara guru, murid, dan metode merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Ketiganya mempunyai sifat komplementer dan merupakan umpan balikan (feed back).
Terkait dengan hal tersebut, ada kalanya seorang guru harus menitik beratkan pada kompetensi pengajaran yang dimilikinya. Karena itu akan berpengaruh pada proses belajar mengajar, apalagi jika dikaitkan dengan minat siswa dalam mengikuti proses belajar. Semakin baik kompetensi guru, maka akan semakin kuat minat siswa dalam megikuti pembelajaran, yang akan berpengaruh pula pada tercapainya tujuan pembelajaran yang baik dan sempurna.
Oleh karena itu, metode yang digunakan seorang guru haruslah berfariasi sehingga menimbulkan semangat yang kuat pada siswa untuk mengikuti pelajaran. Bukan hanya memberikan materi secara teoritis, tetapi juga secara praktis. Bukan sekedar memberikan teori tetapi juga penerapan secara langsung dalam keseharian di sekolah yang didampingi oleh sang guru. Sehingga dalam penerapannya siswa mampu menguasai empat kemahiran berbahasa, yang nantinya akan diterapkan secara langsung baik yang bersifat aktif ekspresif maupun pasif receptive.
Dengan demikian, penggunaan metode permainan dalam pembelajaran sangatlah berperan dalam menghilangkan kejenuhan pada siswa. Dan sebagai salah satu bentuk fariasi yang dimiliki oleh guru dalam mengajarkan materi kepada akan didiknya. Metode ini banyak membantu sorang guru dalam melaksanakan tugasnya dalam mentransfer ilmu kepada siswanya.

Sesuai dengan salah satu prinsip pembelajaran bahasa asing termasuk bahasa arab (prinsip prioritas), yang mengedepankan pengenalan kosa kata sehari-hari sebelum mengajarkan bahasa arab sesuai dengan penutur aslinya, maka metode permainan ini sangatlah membantu. Dengan metode permainan yang telah dipilih guru, sebenarnya sedikit meringankan beban pengajaran yang dimilikinya. Karena dengan permainan siswa akan lebih mudah mengenal sesuatu jika dibandingkan dengan pengenalan yang hanya dilakukan hanya secara teoritis. Karenanya, seorang guru juga harus memperhatikan metode ini untuk mempermudah pencapaian tujuan yang dimilikinya.
Dalam setiap permainan hedaknya diikuti dengan evaluasi dari guru. Hal ini agar siswa mengetahui letak kesalahan dan agar guru juga dapat mengetahui kemampuan anak didiknya sehingga dapat menerapkan metode yang sesuai dengan kemampuan siswanya. Dengan demikian, secara tidak langsung guru telah menerapkan prinsip korektisitas, dimana guru harus mampu membenarkan apa yang salah pada anak didinya. Dan dituntut untuk menjadikan anak didiknya kritis akan hal-hal serupa.
Dalam hal penerapan metode permainan, guru juga harus memperhatikan prinsip berjenjang dalam pengajannya. Kali ini guru diharuskan untuk menerapkan tiga kategori prinsip di atas, yang terdiri dari : pertama, pergeseran dari yang konkrit ke yang abstrak, dari yang global ke yang detail, dari yang sudah diketahui ke yang belum diketahui. Kedua, ada kesinambungan antara apa yang telah diberikan sebelumnya dengan apa yang akan ia ajarkan selanjutnya. Ketiga, ada peningkatan bobot pengajaran terdahulu dengan yang selanjutnya, baik jumlah jam maupun materinya.
Jenjang pengajaran kosa kata hendaknya mempertimbangkan dari aspek penggunaannya bagi peserta didik, yaitu diawali dengan memberikan materi kosa kata yang banyak digunakan dalam keseharian dan berupa kata dasar. Selanjutnya memberikan materi kata sambung. Hal ini dilakukan agar peserta didik dapat menyusun kalimat sempurna sehingga terus bertambah dan berkembang kemampuannya.
Dalam jenjang pengajaran qowaid, baik qowaid nahwu maupun qowaid sharaf juga harus mempertimbangkan kegunaannya dalam percakapan/keseharian. Dalam pengajaran qawaid nahwu misalnya, harus diawali dengan materi tentang kalimat sempurna (Jumlah Mufiidah), namun rincian materi penyajian harus dengan cara mengajarkan tentang isim, fi’il, dan huruf.
Dalam jenjang pengajaran makna kalimat atau kata-kata, seorang guru bahasa Arab hendaknya memulainya dengan memilih kata-kata/kalimat yang paling banyak digunakan/ditemui dalam keseharian mereka. Selanjutnya makna kalimat lugas sebelum makna kalimat yang mengandung arti idiomatic.
Jika guru mampu melaksanakan prinsip-prinsip pengajaran di atas, serta mampu untuk mengintegrasi interkoneksikan materinya dengan baik, maka keberhasilan yang diinginkanpun akan tercapai. Hal itu tentunya di dampingi dengan minat yang kuat dari anak didik serta kompetensi yang baik pula dari guru pengajarnya. Jika demikian maka akan terjadi proses belajar yang sempurna, dan akan membuahkan hasil yang memuaskan semua pihak dan tidak ada pihak yang merasa dirugikan oleh proses belajar mengajar tersebut.

Kesimpulan
Dari pemaparan di atas, dapat di tarik kesimpulan bahwa antara kompetensi guru, minat anak didik, dan variasi metode yang diterapkan oleh guru sangatlah berpengaruh pada tingkat keberhasilan proses belajar mengajar. Semakin baik kompetensi guru, maka akan menimbulkan minat yang baik pula pada diri siswa, yang nantinya akan berpengaruh pada tingat keberhasilan guru dalam melaksanakan tugasnya.
Penggunaan metode variatif sangat dibutuhkan dalam meningkatkan minat dan bakat anak didik akan ilmu yang terkait dengannya. Semakin banyak fariasi yang dimiliki seorang guru dalam metode pembelajaran yang diterapkan pada anak didinya, makan akan berpengaruh besar pada peningkatan kemampuan siswanya.
Namun demikian ada banyak hal yang harus di perhatikan dalam menerapkan variasi metode yang ada, termasuk penerapan metode permainan dalam pembelajaran. Diantaranya adalah prinsip-prinsip pembelajaran bahasa. Dalam hal ini seorang guru harus tetap berjalan pada prinsip pembelajaran bahasa yang ada dalam penerapan metodenya yang berfariasi.
Semakin banyak fariasi yang dimiliki sorang guru dalam proses belajar mengajarnya, akan sangat mempengaruhi minat dan peran aktif siswa akan bahasa tersebut. Termasuk di dalamnya minat pengembangan bahasa dari dalam dirinya sendiri tanpa ada bimbingan secara langsung dari sang guru. Dan semakin besar minat yang berhasil di tanamkan seorang guru terhadap muridnya, maka semakin besar peluang proses belajar mengajar menuju keberhasilan

Pengembangan Metode Permainan dalam Pembelajaran Bahasa Arab

Sakri Selasa, Mei 26, 2009

Pendahuluan
Bahasa Arab merupakan salah satu mata pelajaran yang membutuhkan kemampuan guru dalam mengelola kelas, terutama kemampuan guru dalam memanfaatkan media yang bisa menciptakan suasana nyaman dan menyenangkan sehingga dapat menarik minat dan mengaktifkan siswa untuk mengikuti pelajaran baik secara mandiri ataupun kelompok. Sejauh ini belajar bahasa Arab masih kurang diminati masyarakat jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa yang lain. Hal ini karena pada umumnya bahasa Arab tidak menggema dalam lingkungan kehidupan sehari-hari. Untuk itu perlu adanya suasana yang dapat menumbuhkan minat siswa yang lebih akan belajar bahasa arab. Salah satu cara untuk menciptakan suasana nyaman dan menyenangkan dalam pembelajaran adalah dengan bermain. Oleh karena itu dibutuhkan suatu media pembelajaran yang dapat menarik minat dan mengaktifkan semua siswa dalam proses belajar mengajar bahasa arab.
Di antara metode pembelajaran yang diduga dapat memberikan perbaikan dan peningkatan mutu pembelajaran tersebut adalah pembelajaran kooperatif. Dalam pembelajaran kooperatif, terdapat berbagai model pembelajaran yang bisa diterapkan untuk pembelajaran bahasa Arab. Diantaranya adalah model jigsaw dalam pembelajaran qowa’id, model program macromedia flash untuk materi al-a'mal al-yaumiyyah, penggunaan TTS untuk meningkatkan pemerolehan kosakata, penggunaan lagu untuk meningkatkan hasil belajar siswa, penggunaan kartu kata dan kartu bergambar untuk meningkatkan prestasi siswa, penerapan media permainan ular tangga untuk meningkatkan perolehan kosa kata, dan masih banyak lagi media permainan yang dapat digunakan untuk meningkatkan minat siswa terutama untuk menunjang keberhasilan proses belajar mengajar.
Dengan kata lain, peran media permainan tak kalah pentingnya dengan peran kompetensi guru yang memadai dalam proses belajar. Hal ini disebabkan karena media permainan dapat memberikan peluang yang lebih dalam memperoleh hasil pembelajaran yang maksimal jika dibandingkan dengan proses pembelajaran yang mengabaikan media permainan sebagai penunjang keberhasilan pembelajaran. Untuk itu, ada baiknya kita memberikan perhatian akan pengembangan media permainan dalam suatu proses belajar mengajar.

• Pembahasan
 Prinsip-prinsip pengajaran Bahasa Arab (asing)
Ada lima prinsip dasar dalam pengajaran bahasa Arab asing, yaitu prinsip prioritas dalam proses penyajian, prinsip koreksitas dan umpan balik, prinsip bertahap, prinsip penghayatan, serta korelasi dan isi;
1.Prinsip prioritas
Dalam pembelajaran Bahasa Arab, ada prinsip-prinsip prioritas dalam penyampaian materi pengajaran, yaitu; pertama, mengajarkan, mendengarkan, dan bercakap sebelum menulis. Kedua, mengakarkan kalimat sebelum mengajarkan kata. Ketiga, menggunakan kata-kata yang lebih akrab dengan kehidupan sehari-hari sebelum mengajarkan bahasa sesuai dengan penutur Bahasa Arab.
1) Mendengar dan berbicara terlebih dahulu daripada menulis. Prinsip ini berangkat dari asumsi bahwa pengajaran bahasa yang baik adalah pengajaran yang sesuai dengan perkembangan bahasa yang alami pada manusia, yaitu setiap anak akan mengawali perkembangan bahasanya dari mendengar dan memperhatikan kemudian menirukan. Hal itu menunjukkan bahwa kemampuan mendengar/menyimak harus lebih dulu dibina, kemudian kemampuan menirukan ucapan, lalu aspek lainnya seperti membaca dan menulis.
2) Mengajarkan kalimat sebelum mengajarkan bahasa. Dalam mengajarkan struktur kalimat, sebaiknya mendahulukan mengajarkan struktur kalimat/nahwu, baru kemudian masalah struktur kata/sharaf. Dalam mengajarkan kalimat/jumlah sebaiknya seorang guru memberikan hafalan teks/bacaan yang mengandung kalimat sederhana dan susunannya benar. Oleh karena itu, sebaiknya seorang guru bahasa Arab dapat memilih kalimat yang isinya mudah dimengerti oleh peserta didik dan mengandung kalimat inti saja, bukan kalimat yang panjang (jika kalimatnya panjang hendaknya di penggal – penggal).
3) Dalam tahap awal pembelajaran, siswa terlebih dahulu diperkenalkan dengan kosa kata yang lebih akrab dalam sehari-hari. Hal ini bertujuan agar kata-kata tersebut dapat dipergunakan secara langsung dalam percakapannya. Sehingga memudahkan siswa untuk mengingatnya. Siswa terlebih dahulu di hadapkan dengan bahasa yang di kenal sehari hari sebelum diperkenalkan dengan bahasa sesuai dengan penutur aslinya., agar memudahkan siswa pada tahap berikutnya. Karena siswa sudah terlebih dahulu diperkenalkan dengan bahasa yang akrab dengan kesehariannya, maka akan mempermudah guru pada tahap perkanalan bahasa sesuai dengan penutur aslinya. Dengan demikian proses pengenalan bahasa pada anak akan berjalan dengan sistematis.
2.Prinsip korektisitas
Prinsip ini diterapkan ketika sedang mengajarkan materi fonetik, sintaksis, dan semiotik. Maksud dari prinsip ini adalah seorang guru bahasa Arab hendaknya jangan hanya bisa menyalahkan pada peserta didik, tetapi ia juga harus mampu melakukan pembetulan dan membiasakan pada peserta didik untuk kritis pada hal-hal berikut: Pertama, korektisitas dalam pengajaran fonetik. Kedua, korektisitas dalam pengajaran sintaksis. Ketiga, korektisitas dalam pengajaran semiotik.
Korektisitas dalam pengajaran fonetik melalui latihan pendengaran dan ucapan. Jika peserta didik masih sering melafalkan bahasa ibu, maka guru harus menekankan latihan melafalkan dan menyimak bunyi huruf Arab yang sebenarnya secara terus-menerus dan fokus pada kesalahan peserta didik.
Korektisitas dalam pengajaran sintaksis ditekankan pada pengaruh struktur bahasa ibu terhadap Bahasa Arab. Misalnya, dalam bahasa Indonesia kalimat akan selalu diawali dengan kata benda (subyek), tetapi dalam bahasa Arab kalimat bisa diawali dengan kata kerja.
Korektisitas dalam pengajaran semiotik dilakukan dengan memperhatikan hal berikut: dalam bahasa Indonesia pada umumnya setiap kata dasar mempunyai satu makna ketika sudah dimasukan dalam satu kalimat. Tetapi, dalam bahasa Arab, hampir semua kata mempunyai arti lebih dari satu, yang lebih dikenal dengan istilah mustarak (satu kata banyak arti) dan mutaradif (berbeda kata sama arti). Oleh karena itu, guru bahasa Arab harus menaruh perhatian yang besar terhadap masalah tersebut. Ia harus mampu memberikan solusi yang tepat dalam mengajarkan makna dari sebuah ungkapan dengan petunjuk yang jelas.
3.Prinsip Berjenjang
Jika dilihat dari sifatnya, ada 3 kategori prinsip berjenjang, yaitu: pertama, pergeseran dari yang konkrit ke yang abstrak, dari yang global ke yang detail, dari yang sudah diketahui ke yang belum diketahui. Kedua, ada kesinambungan antara apa yang telah diberikan sebelumnya dengan apa yang akan ia ajarkan selanjutnya. Ketiga, ada peningkatan bobot pengajaran terdahulu dengan yang selanjutnya, baik jumlah jam maupun materinya.
 Hubungan kompetensi guru dengan minat belajar siswa dalam belajar bahasa Arab.
Banyak faktor sebagai penambah minat siswa dalam belajar, termasuk dalam belajar Bahasa Arab, diantara penambah minat tersebut adalah kompetensi guru mata pelajaran yang bersangkutan. Guru mata pelajaran Bahasa Arab merupakan pemegang peranan penting dalam meningkatkan minat belajar siswa dalam mata pelajaran Bahasa Arab di dalam madrasah. Oleh karena itu guru mata pelajaran Bahasa Arab dituntut untuk memiliki potensi dalam upaya meningkatkan pengetahuan siswa pada mata pelajaran Bahasa Arab tersebut. Guru mata pelajaran Bahasa Arab tidak hanya berfungsi sebagai orang dewasa yang bertugas secara profesional untuk menyalurkan ilmu pengetahuan Bahasa Arab kepada siswa, melainkan lebih dari itu, ia juga menjadi pemimpin, pendidik dan pembimbing bagi siswa – siswanya di dalam kelas dan di madrasah.
Guru mata pelajaran Bahasa Arab yang berkualitas harus mampu melakukan tugas dan tanggung jawab secara profesional bagi peningkatan minat belajar siswa dalam mata pelajaran tersebut. Untuk itu, orang yang diserahkan tugas untuk mengajar dan mendidik haruslah orang yang mengerti dalam melaksanakan proses belajar mengajar pada mata pelajaran tersebut. Karenanya, guru mata pelajaran Bahasa Arab tidak hanya sekedar bertugas dalam mentransfer pengetahuan Bahasa Arab kepada siswa-siswanya. Tetapi lebih dari itu, sesuai dengan tujuan pendidikan Bahasa Arab secara luas, maka diupayakan usaha-usaha pengembangan kualitas, keahlian, kemampuan dan disertai pula dengan kepribadian yang mantap untuk keberhasilan tugas sebagai seorang guru mata pelajaran Bahasa Arab.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kompetensi guru erat hubungannya dengan minat siswa dalam belajar Bahasa Arab. Semakin baik kompetensi guru yang mengajar semakin memiliki wawasan keilmuan, semakin luas wawasan keilmuannya maka akan menambah minat siswa dalam belajar Bahasa Arab di dalam kelas.
 Pengembangan media permainan dalam pembelajaran bahasa Arab.
Penggunaan media yang menarik akan mempengaruhi minat siswa dala belajar. Semakin banyak fariasi yang dimiliki seorang guru dalam mengajarkan bahasa pada anak didiknya, semakin besar minat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Namun demikian, permainan yang disajikan oleh seorang guru untuk anak didiknya haruslah sesuai dengan koridor dan etika yang ada. Jangan sampai metode yang awalnya bertujuan baik, harus dihilangkan karena bertentangan dengan etika yang ada. Untuk itu, guru harus memberikan perhatian yang lebih akan hal ini.
Banyak hal yang bisa digunakan guru dalam mengembangkan minat siswa akan pembelajaran bahasa Arab. Sebagai contohnya penggunaan media yang telah digemari sebelumnya oleh para siswa, yaitu media elektronik salah satunya adalah computer. Media pembelajaran berbasis komputer merupakan salah satu variasi penggunaan media pendidikan modern yang digemari oleh para siswa. Salah satu program komputer yang dapat menjadi media pendidikan adalah macromedia flash yaitu program animasi yang telah banyak digunakan untuk menghasilkan desain dan berguna untuk animasi interaktif. Media ini memiliki kemampuan dalam mengintergrasikan komponen warna, musik dan animasi grafik. Media ini juga
mampu memberikan balikan sehingga siswa dapat aktif berinteraksi dengan media yang diproduksi.
Selain tersebut diatas, masih banya lagi media permainan yang dapat dimanfaatkan guru dalam pembelajaran bahasa. Diantaranya adalah penggunaan media permainan ular tangga dalam upaya memperkaya siswa akan kosa kata bahasa. Dalam hal ini, pada setiap gambar yang ada dalam kotak papan permainan dilengkapi dengan maknanya dalam bahasa arab. Selain itu pada dadu yang di gunakan tertulis angka dengan bahasa arab, bukan dengan angka yang ada pada umumnya. Maka permainan ini akan sangat membantu siswa dalam memperoleh dan mengingat kosa kata baru yang belum diketahui sebelumnya.
Penggunaan permainan jigsaw juga sangat membantu siswa dalam memperoleh kosa kata baru. Dalam permainan ini siswa dituntut untuk mecocokkan satu kotak jigsaw dengan kotak jigsaw yang lain. Jika satu kotak jigsaw bertuliskan angka 3 dalam bahasa arab, maka siswa harus mencari penulisan yang tepat dan sesuai dengan angka tersebut, begitu seterusnya. Agar permainan ini lebih variatif, maka bukan hanya angka saja yang disajikan dalam kotak jigsaw tersebur. Dapat pula di sajikan dalam bentuk gambar agar terlihat lebih menarik. Metode permainan ini mirip dengan penggunaan kartu kata dan kartu bergambar dalam usaha pengembangan kosa kata siswa. Dan masih banyak lagi permainan yang dapat mendukung keberhasilan siswa dalam belajar bahasa arab.
• Analisis
Dalam proses belajar mengajar kita perlu memperhatikan tentang minat siswa dalam belajar. Karena proses belajar mengajar tidak akan terselenggara dengan baik jika tidak diikiuti dengan minat yang kuat dari siswa yang mengikuti proses belajar itu sendiri. Untuk itu hendaknya guru mampu menimbulkan minat yang kuat pada anak didiknya. Dalam suatu proses belajar mengajar, antara guru, murid, dan metode merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Ketiganya mempunyai sifat komplementer dan merupakan umpan balikan (feed back).
Terkait dengan hal tersebut, ada kalanya seorang guru harus menitik beratkan pada kompetensi pengajaran yang dimilikinya. Karena itu akan berpengaruh pada proses belajar mengajar, apalagi jika dikaitkan dengan minat siswa dalam mengikuti proses belajar. Semakin baik kompetensi guru, maka akan semakin kuat minat siswa dalam megikuti pembelajaran, yang akan berpengaruh pula pada tercapainya tujuan pembelajaran yang baik dan sempurna.
Oleh karena itu, metode yang digunakan seorang guru haruslah berfariasi sehingga menimbulkan semangat yang kuat pada siswa untuk mengikuti pelajaran. Bukan hanya memberikan materi secara teoritis, tetapi juga secara praktis. Bukan sekedar memberikan teori tetapi juga penerapan secara langsung dalam keseharian di sekolah yang didampingi oleh sang guru. Sehingga dalam penerapannya siswa mampu menguasai empat kemahiran berbahasa, yang nantinya akan diterapkan secara langsung baik yang bersifat aktif ekspresif maupun pasif receptive.
Dengan demikian, penggunaan metode permainan dalam pembelajaran sangatlah berperan dalam menghilangkan kejenuhan pada siswa. Dan sebagai salah satu bentuk fariasi yang dimiliki oleh guru dalam mengajarkan materi kepada akan didiknya. Metode ini banyak membantu sorang guru dalam melaksanakan tugasnya dalam mentransfer ilmu kepada siswanya.

Sesuai dengan salah satu prinsip pembelajaran bahasa asing termasuk bahasa arab (prinsip prioritas), yang mengedepankan pengenalan kosa kata sehari-hari sebelum mengajarkan bahasa arab sesuai dengan penutur aslinya, maka metode permainan ini sangatlah membantu. Dengan metode permainan yang telah dipilih guru, sebenarnya sedikit meringankan beban pengajaran yang dimilikinya. Karena dengan permainan siswa akan lebih mudah mengenal sesuatu jika dibandingkan dengan pengenalan yang hanya dilakukan hanya secara teoritis. Karenanya, seorang guru juga harus memperhatikan metode ini untuk mempermudah pencapaian tujuan yang dimilikinya.
Dalam setiap permainan hedaknya diikuti dengan evaluasi dari guru. Hal ini agar siswa mengetahui letak kesalahan dan agar guru juga dapat mengetahui kemampuan anak didiknya sehingga dapat menerapkan metode yang sesuai dengan kemampuan siswanya. Dengan demikian, secara tidak langsung guru telah menerapkan prinsip korektisitas, dimana guru harus mampu membenarkan apa yang salah pada anak didinya. Dan dituntut untuk menjadikan anak didiknya kritis akan hal-hal serupa.
Dalam hal penerapan metode permainan, guru juga harus memperhatikan prinsip berjenjang dalam pengajannya. Kali ini guru diharuskan untuk menerapkan tiga kategori prinsip di atas, yang terdiri dari : pertama, pergeseran dari yang konkrit ke yang abstrak, dari yang global ke yang detail, dari yang sudah diketahui ke yang belum diketahui. Kedua, ada kesinambungan antara apa yang telah diberikan sebelumnya dengan apa yang akan ia ajarkan selanjutnya. Ketiga, ada peningkatan bobot pengajaran terdahulu dengan yang selanjutnya, baik jumlah jam maupun materinya.
Jenjang pengajaran kosa kata hendaknya mempertimbangkan dari aspek penggunaannya bagi peserta didik, yaitu diawali dengan memberikan materi kosa kata yang banyak digunakan dalam keseharian dan berupa kata dasar. Selanjutnya memberikan materi kata sambung. Hal ini dilakukan agar peserta didik dapat menyusun kalimat sempurna sehingga terus bertambah dan berkembang kemampuannya.
Dalam jenjang pengajaran qowaid, baik qowaid nahwu maupun qowaid sharaf juga harus mempertimbangkan kegunaannya dalam percakapan/keseharian. Dalam pengajaran qawaid nahwu misalnya, harus diawali dengan materi tentang kalimat sempurna (Jumlah Mufiidah), namun rincian materi penyajian harus dengan cara mengajarkan tentang isim, fi’il, dan huruf.
Dalam jenjang pengajaran makna kalimat atau kata-kata, seorang guru bahasa Arab hendaknya memulainya dengan memilih kata-kata/kalimat yang paling banyak digunakan/ditemui dalam keseharian mereka. Selanjutnya makna kalimat lugas sebelum makna kalimat yang mengandung arti idiomatic.
Jika guru mampu melaksanakan prinsip-prinsip pengajaran di atas, serta mampu untuk mengintegrasi interkoneksikan materinya dengan baik, maka keberhasilan yang diinginkanpun akan tercapai. Hal itu tentunya di dampingi dengan minat yang kuat dari anak didik serta kompetensi yang baik pula dari guru pengajarnya. Jika demikian maka akan terjadi proses belajar yang sempurna, dan akan membuahkan hasil yang memuaskan semua pihak dan tidak ada pihak yang merasa dirugikan oleh proses belajar mengajar tersebut.

Kesimpulan
Dari pemaparan di atas, dapat di tarik kesimpulan bahwa antara kompetensi guru, minat anak didik, dan variasi metode yang diterapkan oleh guru sangatlah berpengaruh pada tingkat keberhasilan proses belajar mengajar. Semakin baik kompetensi guru, maka akan menimbulkan minat yang baik pula pada diri siswa, yang nantinya akan berpengaruh pada tingat keberhasilan guru dalam melaksanakan tugasnya.
Penggunaan metode variatif sangat dibutuhkan dalam meningkatkan minat dan bakat anak didik akan ilmu yang terkait dengannya. Semakin banyak fariasi yang dimiliki seorang guru dalam metode pembelajaran yang diterapkan pada anak didinya, makan akan berpengaruh besar pada peningkatan kemampuan siswanya.
Namun demikian ada banyak hal yang harus di perhatikan dalam menerapkan variasi metode yang ada, termasuk penerapan metode permainan dalam pembelajaran. Diantaranya adalah prinsip-prinsip pembelajaran bahasa. Dalam hal ini seorang guru harus tetap berjalan pada prinsip pembelajaran bahasa yang ada dalam penerapan metodenya yang berfariasi.
Semakin banyak fariasi yang dimiliki sorang guru dalam proses belajar mengajarnya, akan sangat mempengaruhi minat dan peran aktif siswa akan bahasa tersebut. Termasuk di dalamnya minat pengembangan bahasa dari dalam dirinya sendiri tanpa ada bimbingan secara langsung dari sang guru. Dan semakin besar minat yang berhasil di tanamkan seorang guru terhadap muridnya, maka semakin besar peluang proses belajar mengajar menuju keberhasilan

Inovasi Pembelajaran Dengan Metode Permainan ( Tebak kata, Acak kata dan komunikata )

I. Muqaddimah

Pendidikan merupakan sebuah aktivitas yang diwajibkan oleh Allah kepada Insan fii kulli waqtin wa makanin. Dengan pendidikan, insan akan mampu menilai mana yang baik mana yang buruk atau kata lainnya, mana yang diperintah oleh Allah dan mana yang dilarang oleh Allah. Begitu pentingnya pendidikan dalam kehidupan, sampai-sampai Allah mengukir dalam KalamNya yaitu surat Al-Mujadalah ayat 11 :

Artinya :

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan ( Q.S. Al-Mujadalah : 11 )

Pendidikan menurut kamus besar Bahasa Indonesia ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajarandan pelatihan. Dalam pengertian yang agak luas, pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan ( Muhibbin Syah, 1995 : 10 )

Pendidikan tidak terlepas dari berbagai unsur, yakni pendidik, peserta didik, materi ajar, evaluasi, kurikulum, dll. Unsur-unsur ini berkaitan satu sama lainnya. Adapun penunjang pendidikan yaitu metode, sarana prasarana, dsb.

Metode Mengajar adalah suatu pengetahuan tentang tata cara mengajar yang dipergunakan oleh seorang guru atau instruktur. Pengertian lain ialah teknik penyajian yang dikuasai guru untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di kelas baik secara individual atau secara kelompok / klasikal agar pelajaran itu dapat diserap,difahami, dan dimanfaatkan oleh siswa dengan baik. Semakin baik metode mengajar, semakin efektif pula pencapaian tujuan ( Abu Ahmadi, 2005 : 52 ).

Yang jadi permasalahannya, metode yang bagaimana yang bagus untuk dipergunakan ? Penggunaan metode disesuaikan dengan usia anak didik, tujuan pendididkan dan sarana pasarana. Solikin S.T. M.T. ( 8 Maret 2009 ) mengatakan dalam Seminar Teknologi Internet Pendidikan bahwa ciri PBM yang modern adalah every where, every time, any who. Jadi metode yang baik adalah metode yang yang tidak terbatas oleh dimensi ruang dan waktu.

Masa dini ( 3-12 tahun ) adalah masa yang penuh imajinasi dan kreatif. Sebuah tantangan bagi guru yang mendidik anak usia dini untuk menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan. Kreatifnya guru menciptakan metode belajar akan mendorong berhasilnya proses pembelajaran.

Dengan pendekatan bahasa, metode akan tercipta. Mengingat kemampuan anak dalam menguasai bahasa sangat terbatas, disini guru mempunyai peranan merangsang anak untuk mengenalkan bahasa atau kata-kata yang berkaitan dengan benda yang ada disekeliling.

Metode permainan kata ini juga bisa di terapkan di usia dewasa, dengan pendekatan bahwa sebuah permaianan akan menghilangakan kejenuhan dan menciptakan suasana yang kompetatif. Suasana yang penuh persaingan sehingga mampu memompa adrenalin manusia.

II. Aplikasi

Metode permainan bahasa ( tebak kata, acak kata dan komunikata ) lahir dari proses ( PPL ) Praktik Pengenalan Lapangan di MAN 2 Bandung, penulis melakukan PPL mengajar Bahasa Arab di kelas XI MAN 2 Bandung. Dengan berbekal ilmu yang telah digali di Fakultas tarbiyah Jurusan Bahasa Arab, penulis mencoba menerapkan berbagai metode, dan akhirnya mencoba menggunakan metode permainan kata ( tebak kata, acak kata dan komunikata ). Responnya alhamdulillah bagus, antusias mereka sangat tinggi ketika mengikuti pelajaran Bahasa Arab.

Metode ini juga diterapkan bukan hanya untuk pelajaran Bahasa saja, tapi bisa diterapkan di semua pelajaran. Penulis mencoba menerapkan metode ini di pelajaran Scince SD, juga bisa diterapkan untuk pelajaranTahfidz. Terbukti metode ini diterapkan di SDIT Insantama Banjar. Mengingat jenjang umur Aliyah/SMA dan SD itu sangat jauh, maka yang dibedakannya hanya teknik penyampaiannya saja. Dalam kata lain penyampaian pertanyaan untuk usia dini ( anak SD ) lebih sederhana di banding dengan pertanyaan yang disajikan untuk usia dewasa.

III. Langkah-langkah Penyajian

Dalam menerapkan metode permainan ada beberapa hal yang harus disiapkan adalah sebagai berikut :

1. siapkan materi yang akan di sampaikan.
2. siapkan bahan ajar yang di butuhkan.
3. siapkan kata kunci yang akan di pertanyakan.

Setelah semuanya siap, langkah-langkah penyampaian ketiga permainan ini adalah :

Tebak Kata

-Kondisikan anak.

-Sampaikan materi, contohnya jenis makhluk hidup.

-Berikan pertanyaan ke murid : aku adalah jenis makhluk hidup, aku hidup di darat, aku termasuk hewan menyusui, aku mempunyai kaki empat, aku digunakan untuk menarik delman, apakah aku ? jawabannya : kuda.

-Sebelum ada anak yang mamapu menjawab, berikan pernyataan dengan menyebutkan ciri-ciri atau yang kata yang mendekati kta kunci.

-Kelebihannya : anak akan mempunyai kekayaan bahasa.

-Kelemahannya : memerlukan waktu yang lama sehingga materi sulit tersampaikan.

Acak Kata

-Kondisikan anak.

-Sampaikan materi, contohnya jenis makhluk hidup.

- Berikan Pernyataan secara diacak dan biarkan anak menyusunnya.

Komunikata

-Kondisikan anak.

-Sampaikan materi, contohnya permukaan bumi.

-Untuk kelas yang jumlah muridnya kurang dari 20, boleh tempat duduknya berbentuk U, dan bisikan salah satu pengertian ke telinga murid yang paling ujung dan terus dibisikan sampai ke murid ujung satu lagi. Setelah sampai di murid paling ujung, guru menanyakan apa yang dibisikan temannya. Contohnya bisikan kalimat : Palung adalah dasar laut yang paling dalam dan curam.

-Untuk kelas yang muridnya lebih dari 20 boleh di kelompokan menjadi beberapa kelompok. Ketua tiap kelompok diberi kalimat yang berbeda untuk disampaikan ke anggotanya. Setelah semua anggota dibisikkan. Tanya anggota yang paling terakhir di bisikan. Kelompok yang benar jawabannya diberi poin.

-Kelebihannya : melatih kekuatan hafalan, pendengaran, dan kejelasan bicara.

-Kekurangannya : memerlukan waktu yang lama.

IV. Kesimpulan

Sebuah kebanggaan tersendiri ketika antusias anak tinggi mengikuti pelajaran yang kita sampaikan. Proses pembelajaran jangan pernah membuat anak-anak takut dan stress. Biarkan anak berada dalam dunia yang menyenangkan, dunia yang penuh tantangan, dunia yang penuh dengan permainan!! Sebuah pepatah mengatakan, metode itu lebih penting daripada materi. Karena sejatinya, sesulit apapun materi akan menjadi mudah tatkala disampaikan dengan metode yang cantik.

Terima kasih untuk anak-anakku di MAN 2 Bandung, SDIT Insantama Banjar, TPA Nurul Huda, TKA/TPA Al-Ikhwan, TPA Bustanul Wildan dan Reihan Luthfia Ar-reza juga anak-anakku yang tidak tersebut. Antum membuat Ibu bertahan di dunia kalian yang penuh canda tawa. Do’a ibu selalu menyertai langkah kehidupan kalian untuk mendapat ridlaNya…WaAllahu a’lam bishawab..

V. Daftar Pustaka

Ahmadi, Abu

2005, Strategi Belajar Mengajar, Pustaka Setia, Bandung.

Modul Seminar Teknologi Internet Pendidikan, Kawali : 2009.

Modul Workshop Seni Mengajar Yang Menyenangkan Dan Hypno Teaching, Bandung : 2008.

Syah, Muhibbin,

1995, Psikologi Pendidikan, Rosda Karya, Bandung.

Inovasi Pembelajaran Dengan Metode Permainan ( Tebak kata, Acak kata dan komunikata )

I. Muqaddimah

Pendidikan merupakan sebuah aktivitas yang diwajibkan oleh Allah kepada Insan fii kulli waqtin wa makanin. Dengan pendidikan, insan akan mampu menilai mana yang baik mana yang buruk atau kata lainnya, mana yang diperintah oleh Allah dan mana yang dilarang oleh Allah. Begitu pentingnya pendidikan dalam kehidupan, sampai-sampai Allah mengukir dalam KalamNya yaitu surat Al-Mujadalah ayat 11 :

Artinya :

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan ( Q.S. Al-Mujadalah : 11 )

Pendidikan menurut kamus besar Bahasa Indonesia ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajarandan pelatihan. Dalam pengertian yang agak luas, pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan ( Muhibbin Syah, 1995 : 10 )

Pendidikan tidak terlepas dari berbagai unsur, yakni pendidik, peserta didik, materi ajar, evaluasi, kurikulum, dll. Unsur-unsur ini berkaitan satu sama lainnya. Adapun penunjang pendidikan yaitu metode, sarana prasarana, dsb.

Metode Mengajar adalah suatu pengetahuan tentang tata cara mengajar yang dipergunakan oleh seorang guru atau instruktur. Pengertian lain ialah teknik penyajian yang dikuasai guru untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di kelas baik secara individual atau secara kelompok / klasikal agar pelajaran itu dapat diserap,difahami, dan dimanfaatkan oleh siswa dengan baik. Semakin baik metode mengajar, semakin efektif pula pencapaian tujuan ( Abu Ahmadi, 2005 : 52 ).

Yang jadi permasalahannya, metode yang bagaimana yang bagus untuk dipergunakan ? Penggunaan metode disesuaikan dengan usia anak didik, tujuan pendididkan dan sarana pasarana. Solikin S.T. M.T. ( 8 Maret 2009 ) mengatakan dalam Seminar Teknologi Internet Pendidikan bahwa ciri PBM yang modern adalah every where, every time, any who. Jadi metode yang baik adalah metode yang yang tidak terbatas oleh dimensi ruang dan waktu.

Masa dini ( 3-12 tahun ) adalah masa yang penuh imajinasi dan kreatif. Sebuah tantangan bagi guru yang mendidik anak usia dini untuk menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan. Kreatifnya guru menciptakan metode belajar akan mendorong berhasilnya proses pembelajaran.

Dengan pendekatan bahasa, metode akan tercipta. Mengingat kemampuan anak dalam menguasai bahasa sangat terbatas, disini guru mempunyai peranan merangsang anak untuk mengenalkan bahasa atau kata-kata yang berkaitan dengan benda yang ada disekeliling.

Metode permainan kata ini juga bisa di terapkan di usia dewasa, dengan pendekatan bahwa sebuah permaianan akan menghilangakan kejenuhan dan menciptakan suasana yang kompetatif. Suasana yang penuh persaingan sehingga mampu memompa adrenalin manusia.

II. Aplikasi

Metode permainan bahasa ( tebak kata, acak kata dan komunikata ) lahir dari proses ( PPL ) Praktik Pengenalan Lapangan di MAN 2 Bandung, penulis melakukan PPL mengajar Bahasa Arab di kelas XI MAN 2 Bandung. Dengan berbekal ilmu yang telah digali di Fakultas tarbiyah Jurusan Bahasa Arab, penulis mencoba menerapkan berbagai metode, dan akhirnya mencoba menggunakan metode permainan kata ( tebak kata, acak kata dan komunikata ). Responnya alhamdulillah bagus, antusias mereka sangat tinggi ketika mengikuti pelajaran Bahasa Arab.

Metode ini juga diterapkan bukan hanya untuk pelajaran Bahasa saja, tapi bisa diterapkan di semua pelajaran. Penulis mencoba menerapkan metode ini di pelajaran Scince SD, juga bisa diterapkan untuk pelajaranTahfidz. Terbukti metode ini diterapkan di SDIT Insantama Banjar. Mengingat jenjang umur Aliyah/SMA dan SD itu sangat jauh, maka yang dibedakannya hanya teknik penyampaiannya saja. Dalam kata lain penyampaian pertanyaan untuk usia dini ( anak SD ) lebih sederhana di banding dengan pertanyaan yang disajikan untuk usia dewasa.

III. Langkah-langkah Penyajian

Dalam menerapkan metode permainan ada beberapa hal yang harus disiapkan adalah sebagai berikut :

1. siapkan materi yang akan di sampaikan.
2. siapkan bahan ajar yang di butuhkan.
3. siapkan kata kunci yang akan di pertanyakan.

Setelah semuanya siap, langkah-langkah penyampaian ketiga permainan ini adalah :

Tebak Kata

-Kondisikan anak.

-Sampaikan materi, contohnya jenis makhluk hidup.

-Berikan pertanyaan ke murid : aku adalah jenis makhluk hidup, aku hidup di darat, aku termasuk hewan menyusui, aku mempunyai kaki empat, aku digunakan untuk menarik delman, apakah aku ? jawabannya : kuda.

-Sebelum ada anak yang mamapu menjawab, berikan pernyataan dengan menyebutkan ciri-ciri atau yang kata yang mendekati kta kunci.

-Kelebihannya : anak akan mempunyai kekayaan bahasa.

-Kelemahannya : memerlukan waktu yang lama sehingga materi sulit tersampaikan.

Acak Kata

-Kondisikan anak.

-Sampaikan materi, contohnya jenis makhluk hidup.

- Berikan Pernyataan secara diacak dan biarkan anak menyusunnya.

Komunikata

-Kondisikan anak.

-Sampaikan materi, contohnya permukaan bumi.

-Untuk kelas yang jumlah muridnya kurang dari 20, boleh tempat duduknya berbentuk U, dan bisikan salah satu pengertian ke telinga murid yang paling ujung dan terus dibisikan sampai ke murid ujung satu lagi. Setelah sampai di murid paling ujung, guru menanyakan apa yang dibisikan temannya. Contohnya bisikan kalimat : Palung adalah dasar laut yang paling dalam dan curam.

-Untuk kelas yang muridnya lebih dari 20 boleh di kelompokan menjadi beberapa kelompok. Ketua tiap kelompok diberi kalimat yang berbeda untuk disampaikan ke anggotanya. Setelah semua anggota dibisikkan. Tanya anggota yang paling terakhir di bisikan. Kelompok yang benar jawabannya diberi poin.

-Kelebihannya : melatih kekuatan hafalan, pendengaran, dan kejelasan bicara.

-Kekurangannya : memerlukan waktu yang lama.

IV. Kesimpulan

Sebuah kebanggaan tersendiri ketika antusias anak tinggi mengikuti pelajaran yang kita sampaikan. Proses pembelajaran jangan pernah membuat anak-anak takut dan stress. Biarkan anak berada dalam dunia yang menyenangkan, dunia yang penuh tantangan, dunia yang penuh dengan permainan!! Sebuah pepatah mengatakan, metode itu lebih penting daripada materi. Karena sejatinya, sesulit apapun materi akan menjadi mudah tatkala disampaikan dengan metode yang cantik.

Terima kasih untuk anak-anakku di MAN 2 Bandung, SDIT Insantama Banjar, TPA Nurul Huda, TKA/TPA Al-Ikhwan, TPA Bustanul Wildan dan Reihan Luthfia Ar-reza juga anak-anakku yang tidak tersebut. Antum membuat Ibu bertahan di dunia kalian yang penuh canda tawa. Do’a ibu selalu menyertai langkah kehidupan kalian untuk mendapat ridlaNya…WaAllahu a’lam bishawab..

V. Daftar Pustaka

Ahmadi, Abu

2005, Strategi Belajar Mengajar, Pustaka Setia, Bandung.

Modul Seminar Teknologi Internet Pendidikan, Kawali : 2009.

Modul Workshop Seni Mengajar Yang Menyenangkan Dan Hypno Teaching, Bandung : 2008.

Syah, Muhibbin,

1995, Psikologi Pendidikan, Rosda Karya, Bandung.

Permainan dan Media Kartu dalam Pembelajaran Bahasa Arab

Azizatul Mufidah

Abstrak

Di Indonesia, bahasa Arab tidak hanya diajarkan di Madrasah Ibtidaiyah
(MI) saja, tetapi juga diajarkan di Sekolah Dasar (SD). Dalam mengajarkan
bahasa asing untuk anak, perlu diupayakan berbagai cara yang menyenangkan.
Dunia anak adalah dunia bermain. Oleh karena itu, guru dapat menggunakan
berbagai macam permainan sebagai salah satu teknik pembelajaran.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan permainan dan media kartu
dalam PBA di MI Attaraqqie Putri Malang (MI APM) yang meliputi (1) jenis
permainan dan media kartu, (2) penggunaan permainan dan media kartu, (3)
faktor-faktor yang mendukung penggunaan permainan dan media kartu, dan (4)
faktor-faktor yang menghambat penggunaan permainan dan media kartu.
Penelitian ini dilakukan di MI APM. Rancangan penelitian yang
digunakan adalah deskriptif kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah siswi
kelas V, guru bahasa Arab kelas V, dan kepala sekolah. Data penelitian ini berupa
jenis permainan dan media kartu, penggunaan permainan dan media kartu, faktor-
faktor yang mendukung penggunaan permainan dan media kartu, dan faktor-
faktor yang menghambat penggunaan permainan dan media kartu. Instrumen
utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, sedangkan instrumen
penunjang berupa pedoman wawancara, observasi, dan dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) jenis permainan dan media kartu
di MI APM yaitu Cerdas Cermat, Penjodohan, Siapa Aku?, Cerita Pendek,
Peragakan Hiwar, Menterjemahkan, Mencocokkan Gambar dengan
Mufradatnya, Membuat Kalimat, dan Menebak Gambar Sesuai dengan
Mufradatnya, (2) penggunaan permainan dan media kartu di MI APM disesuaikan
dengan empat keterampilan berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan
menulis, (3) faktor-faktor yang mendukung permainan dan media kartu adalah
kreativitas guru, antusiasme siswa, dan variasi permainan, dan (4) faktor-faktor
yang menghambat penggunaan permainan dan media kartu adalah kurangnya
kemampuan siswa dan keterbatasan media.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan kepada kepala sekolah
MI APM, hendaknya mengembangkan media kartu dan menambah media
pembelajaran sebagai penunjang belajar siswa dalam PBA seperti tape recorder,
VCD, kaset lagu Arab (lagu anak-anak), kaset yang direkam oleh guru sendiri
untuk pembelajaran istima (rekaman bisa berupa teks hiwar atau teks qiroah
yang ada dalam buku panduan guru). Kepada guru, disarankan untuk
mengembangkan media kartu dengan lebih variatif dalam permainan atau PBA
i agar siswa tidak mudah bosan. Media kartu tersebut misalnya puzzle dan
potongan kata (merangkai kata menjadi kalimat). Selain itu, dalam melakukan
permainan, guru perlu mengadakan permainan di luar kelas. Hal ini dilakukan
agar siswa lebih rileks dan tidak jenuh dalam kelas, sehingga suasana belajar
menjadi menyenangkan.

Permainan dan Media Kartu dalam Pembelajaran Bahasa Arab

Azizatul Mufidah

Abstrak

Di Indonesia, bahasa Arab tidak hanya diajarkan di Madrasah Ibtidaiyah
(MI) saja, tetapi juga diajarkan di Sekolah Dasar (SD). Dalam mengajarkan
bahasa asing untuk anak, perlu diupayakan berbagai cara yang menyenangkan.
Dunia anak adalah dunia bermain. Oleh karena itu, guru dapat menggunakan
berbagai macam permainan sebagai salah satu teknik pembelajaran.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan permainan dan media kartu
dalam PBA di MI Attaraqqie Putri Malang (MI APM) yang meliputi (1) jenis
permainan dan media kartu, (2) penggunaan permainan dan media kartu, (3)
faktor-faktor yang mendukung penggunaan permainan dan media kartu, dan (4)
faktor-faktor yang menghambat penggunaan permainan dan media kartu.
Penelitian ini dilakukan di MI APM. Rancangan penelitian yang
digunakan adalah deskriptif kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah siswi
kelas V, guru bahasa Arab kelas V, dan kepala sekolah. Data penelitian ini berupa
jenis permainan dan media kartu, penggunaan permainan dan media kartu, faktor-
faktor yang mendukung penggunaan permainan dan media kartu, dan faktor-
faktor yang menghambat penggunaan permainan dan media kartu. Instrumen
utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, sedangkan instrumen
penunjang berupa pedoman wawancara, observasi, dan dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) jenis permainan dan media kartu
di MI APM yaitu Cerdas Cermat, Penjodohan, Siapa Aku?, Cerita Pendek,
Peragakan Hiwar, Menterjemahkan, Mencocokkan Gambar dengan
Mufradatnya, Membuat Kalimat, dan Menebak Gambar Sesuai dengan
Mufradatnya, (2) penggunaan permainan dan media kartu di MI APM disesuaikan
dengan empat keterampilan berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan
menulis, (3) faktor-faktor yang mendukung permainan dan media kartu adalah
kreativitas guru, antusiasme siswa, dan variasi permainan, dan (4) faktor-faktor
yang menghambat penggunaan permainan dan media kartu adalah kurangnya
kemampuan siswa dan keterbatasan media.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, disarankan kepada kepala sekolah
MI APM, hendaknya mengembangkan media kartu dan menambah media
pembelajaran sebagai penunjang belajar siswa dalam PBA seperti tape recorder,
VCD, kaset lagu Arab (lagu anak-anak), kaset yang direkam oleh guru sendiri
untuk pembelajaran istima (rekaman bisa berupa teks hiwar atau teks qiroah
yang ada dalam buku panduan guru). Kepada guru, disarankan untuk
mengembangkan media kartu dengan lebih variatif dalam permainan atau PBA
i agar siswa tidak mudah bosan. Media kartu tersebut misalnya puzzle dan
potongan kata (merangkai kata menjadi kalimat). Selain itu, dalam melakukan
permainan, guru perlu mengadakan permainan di luar kelas. Hal ini dilakukan
agar siswa lebih rileks dan tidak jenuh dalam kelas, sehingga suasana belajar
menjadi menyenangkan.

Studi Prinsip Dasar Metode Pengajaran Bahasa Arab

Yayat Hidayat

A. Muqaddimah

Belajar Bahasa Arab (asing) berbeda dengan belajar bahasa ibu, oleh karena itu prinsip dasar pengajarannya harus berbeda, baik menyangkut metode (model pengajaran), materi maupun proses pelaksanaan pengajarannya. Bidang keterampilan pada penguasaan Bahasa Arab meliputi kemampuan menyimak (listening competence/mahaarah al – Istima’), kemampuan berbicara (speaking competence/mahaarah al-takallum), kemampuan membaca (reading competence/mahaarah al-qira’ah), dan kemampuan menulis (writing competence/mahaarah al - Kitaabah).

Setiap anak manusia pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk menguasai setiap bahasa, walaupun dalam kadar dan dorongan yang berbeda. Adapun diantara perbedaan-perbedaan tersebut adalah tujuan-tujuan pengajaran yang ingin dicapai, kemampuan dasar yang dimiliki, motivasi yang ada di dalam diri dan minat serta ketekunannya.

1.Tujuan Pengajaran Belajar bahasa ibu (bahasa bawaan -edt) merupakan tujuan yang hidup, yaitu sebagai alat komunikasi untuk mencapai sesuatu yang diinginkan dalam hidupnya, oleh karena itu motivasi untuk belajarnya sangat tinggi. Sementara itu belajar bahasa asing, seperti bahasa Arab (bagi non Arab), pada umunya mempunyai tujuan sebagai alat komunikasi dan ilmu pengetahuan (kebudayaan). Namun bahasa asing tidak dijadikan sebagai bahasa hidup sehari-hari, oleh karena itu motivasi belajar Bahasa Arab lebih rendah daripada bahasa ibu. Padahal besar kecilnya motivasi belajar Bahasa Arab mempengaruhi hasil yang akan dicapai.

2.Kemampuan dasar yang dimiliki Ketika anak kecil belajar bahasa ibu, otaknya masih bersih dan belum mendapat pengaruh bahasa-bahasa lain, oleh karena itu ia cenderung dapat berhasil dengan cepat. Sementara ketika mempelajari Bahasa Arab, ia telah lebih dahulu menguasai bahasa ibunya, baik lisan, tulis, maupun bahasa berpikirnya. Oleh karena itu mempelajari bahasa Arab tentu lebih sulit dan berat, karena ia harus menyesuaikan sistem bahasa ibu kedalam sistem bahasa Arab, baik sistem bunyi, struktur kata, struktur kalimat maupun sistem bahasa berpikirnya1.

B.Prinsip-prinsip pengajaran Bahasa Arab (asing)
Ada lima prinsip dasar dalam pengajaran bahasa Arab asing, yaitu prinsip prioritas dalam proses penyajian, prinsip koreksitas dan umpan balik, prinsip bertahap, prinsip penghayatan, serta korelasi dan isi;

1.Prinsip prioritas
Dalam pembelajaran Bahasa Arab, ada prinsip-prinsip prioritas dalam penyampaian materi pengajaran, yaitu; pertama, mengajarkan, mendengarkan, dan bercakap sebelum menulis. Kedua, mengakarkan kalimat sebelum mengajarkan kata. Ketiga, menggunakan kata-kata yang lebih akrab dengan kehidupan sehari-hari sebelum mengajarkan bahasa sesuai dengan penutur Bahasa Arab.

1)Mendengar dan berbicara terlebih dahulu daripada menulis. Prinsip ini berangkat dari asumsi bahwa pengajaran bahasa yang baik adalah pengajaran yang sesuai dengan perkembangan bahasa yang alami pada manusia2, yaitu setiap anak akan mengawali perkembangan bahasanya dari mendengar dan memperhatikan kemudian menirukan. Hal itu menunjukkan bahwa kemampuan mendengar/menyimak harus lebih dulu dibina, kemudian kemampuan menirukan ucapan, lalu aspek lainnya seperti membaca dan menulis. Ada beberapa teknik melatih pendengaran/telinga,yaitu:

i.Guru bahasa asing (Arab) hendaknya mengucapkan kata-kata yang beragam, baik dalam bentuk huruf maupun dalam kata. Sementara peserta didik menirukannya di dalam hati secara kolektif.
ii.Guru bahasa asing kemudian melanjutkan materinya tentang bunyi huruf yang hampir sama sifatnya. Misalnya: ه - ح, ء - ع س– ش, ز – ذ , dan seterusnya3.
iii.Selanjutnya materi diteruskan dengan tata bunyi yang tidak terdapat di dalam bahasa ibu (dalam hal ini bahasa indonesia, -edt) peserta didik, seperti: خ, ذ, ث, ص, ض dan

seterusnya. Adapun dalam pengajaran pengucapan dan peniruan dapat menempuh langkah-langkah berikut4.

i.Peserta didik dilatih untuk melafalkan huruf-huruf tunggal yang paling mudah dan tidak asing, kemudian dilatih dengan huruf-huruf dengan tanda panjang dan kemudian dilatih dengan lebih cepat dan seterusnya dilatih dengan melafalkan kata-kata dan kalimat dengan cepat. Misalnya : بى, ب, با, بو dan seterusnya.
ii.Mendorong peserta didik ketika proses pengajaran menyimak dan melafalkan huruf atau kata-kata untuk menirukan intonasi, cara berhenti, maupun panjang pendeknya.

2)Mengajarkan kalimat sebelum mengajarkan bahasa
Dalam mengajarkan struktur kalimat, sebaiknya mendahulukan mengajarkan struktur kalimat/nahwu, baru kemudian masalah struktur kata/sharaf. Dalam mengajarkan kalimat/jumlah sebaiknya seorang guru memberikan hafalan teks/bacaan yang mengandung kalimat sederhana dan susunannya benar.

Oleh karena itu, sebaiknya seorang guru bahasa Arab dapat memilih kalimat yang isinya mudah dimengerti oleh peserta didik dan mengandung kalimat inti saja, bukan kalimat yang panjang (jika kalimatnya panjang hendaknya di penggal – penggal). Contoh: اشتريت سيارة صغيرة بيضاء مستعملة مصنوعة في اليا بان Kemudian dipenggal - penggal menjadi : اشتريت سيارة اشتريت سيارة صغيرة اشتريت سيارة صغيرة بيضاء Dan seterusnya..

2.Prinsip korektisitas (الدقة) Prinsip ini diterapkan ketika sedang mengajarkan materi الأصوات (fonetik), التراكب (sintaksis), dan المعانى (semiotic). Maksud dari prinsip ini adalah seorang guru bahasa Arab hendaknya jangan hanya bisa menyalahkan pada peserta didik, tetapi ia juga harus mampu melakukan pembetulan dan membiasakan pada peserta didik untuk kritis pada hal-hal berikut: Pertama, korektisitas dalam pengajaran (fonetik). Kedua, korektisitas dalam pengajaran (sintaksis). Ketiga, korektisitas dalam pengajaran (semiotic). a.Korektisitas dalam pengajaran fonetik Pengajaran aspek keterampilan ini melalui latihan pendengaran dan ucapan. Jika peserta didik masih sering melafalkan bahasa ibu, maka guru harus menekankan latihan melafalkan dan menyimak bunyi huruf Arab yang sebenarnya secara terus-menerus dan fokus pada kesalahan peserta didik5. b.Korektisitas dalam pengajaran sintaksis Perlu diketahui bahwa struktur kalimat dalam bahasa satu dengan yang lainnya pada umumnya terdapat banyak perbedaan. Korektisitas ditekankan pada pengaruh struktur bahasa ibu terhadap Bahasa Arab. Misalnya, dalam bahasa Indonesia kalimat akan selalu diawali dengan kata benda (subyek), tetapi dalam bahasa Arab kalimat bisa diawali dengan kata kerja ( فعل ). c.Korektisitas dalam pengajaran semiotik Dalam bahasa Indonesia pada umumnya setiap kata dasar mempunyai satu makna ketika sudah dimasukan dalam satu kalimat. Tetapi, dalam bahasa Arab, hampir semua kata mempunyai arti lebih dari satu, yang lebih dikenal dengan istilah mustarak (satu kata banyak arti) dan mutaradif (berbeda kata sama arti). Oleh karena itu, guru bahasa Arab harus menaruh perhatian yang besar terhadap masalah tersebut. Ia harus mampu memberikan solusi yang tepat dalam mengajarkan makna dari sebuah ungkapan karena kejelasan petunjuk.

3.Prinsip Berjenjang ( التدرج) Jika dilihat dari sifatnya, ada 3 kategori prinsip berjenjang, yaitu: pertama, pergeseran dari yang konkrit ke yang abstrak, dari yang global ke yang detail, dari yang sudah diketahui ke yang belum diketahui. Kedua, ada kesinambungan antara apa yang telah diberikan sebelumnya dengan apa yang akan ia ajarkan selanjutnya. Ketiga, ada peningkatan bobot pengajaran terdahulu dengan yang selanjutnya, baik jumlah jam maupun materinya.

a.Jenjang Pengajaran mufrodat Pengajaran kosa kata hendaknya mempertimbangkan dari aspek penggunaannya bagi peserta didik, yaitu diawali dengan memberikan materi kosa kata yang banyak digunakan dalam keseharian dan berupa kata dasar. Selanjutnya memberikan materi kata sambung. Hal ini dilakukan agar peserta didik dapat menyusun kalimat sempurna sehingga terus bertambah dan berkembang kemampuannya.

b.Jenjang Pengajaran Qowaid (Morfem) Dalam pengajaran Qowaid, baik Qowaid Nahwu maupun Qowaid Sharaf juga harus mempertimbangkan kegunaannya dalam percakapan/keseharian. Dalam pengajaran Qawaid Nahwu misalnya, harus diawali dengan materi tentang kalimat sempurna (Jumlah Mufiidah), namun rincian materi penyajian harus dengan cara mengajarkan tentang isim, fi’il, dan huruf.

c.Tahapan pengajaran makna ( دلالة المعانى) Dalam mengajarkan makna kalimat atau kata-kata, seorang guru bahasa Arab hendaknya memulainya dengan memilih kata-kata/kalimat yang paling banyak digunakan/ditemui dalam keseharian meraka. Selanjutnya makna kalimat lugas sebelum makna kalimat yang mengandung arti idiomatic. Dilihat dari teknik materi pengajaran bahasa Arab, tahapan-tahapannya dapat dibedakan sebagai berikut: pertama, pelatihan melalui pendengaran sebelum melalui penglihatan. Kedua, pelatihan lisan/pelafalan sebelum membaca. Ketiga, penugasan kolektif sebelum individu. Langkah-langkah aplikasi ( الصلابة والمتا نة) Ada delapan langkah yang diperlukan agar teknik diatas berhasil dan dapat terlaksana, yaitu:

1.Memberikan contoh-contoh sebelum memberikan kaidah gramatika, karena contoh yang baik akan menjelaskan gramatika secara mendalam daripada gramatika saja.

2.Jangan memberikan contoh hanya satu kalimat saja, tetapi harus terdiri dari beberapa contoh dengan perbedaan dan persamaan teks untuk dijadikan analisa perbandingan bagi peserta didik.

3.Mulailah contoh-contoh dengan sesuatu yang ada di dalam ruangan kelas/media yang telah ada dan memungkinkan menggunakannya.

4.Mulailah contoh-contoh tersebut dengan menggunakan kata kerja yang bisa secara langsung dengan menggunakan gerakan anggota tubuh.

5.Ketika mengajarkan kata sifat hendaknya menyebutkan kata-kata yang paling banyak digunakan dan lengkap dengan pasangannya. Misalnya hitam-putih, bundar-persegi.

6.Ketika mengajarkan huruf jar dan maknanya, sebaiknya dipilih huruf jar yang paling banyak digunakan dan dimasukkan langsung ke dalam kalimat yang paling sederhana. Contoh Jumlah ismiyyah: الكتاب في الصندوق, Contoh jumlah fi’iliyah : خرج الطاب من الفصل

7.Hendaknya tidak memberikan contoh-contoh yang membuat peserta didik harus meraba-raba karena tidak sesuai dengan kondisi pikiran mereka.

8.Peserta didik diberikan motivasi yang cukup untuk berekspresi melalui tulisan, lisan bahkan mungkin ekspresi wajah, agar meraka merasa terlibat langsung dengan proses pengajaran yang berlangsung.

C.Metode Pengajaran Bahasa Arab
Ibnu khaldun berkata, “Sesungguhnya pengajaran itu merupakan profesi yang membutuhkan pengetahuan, keterampilan, dan kecermatan karena ia sama halnya dengan pelatihan kecakapan yang memerlukan kiat, strategi dan ketelatenan, sehingga menjadi cakap dan professional.” Penerapan metode pengajaran tidak akan berjalan dengan efektif dan efisien sebagai media pengantar materi pengajaran bila penerapannya tanpa didasari dengan pengetahuan yang memadai tentang metode itu. Sehingga metode bisa saja akan menjadi penghambat jalannya proses pengajaran, bukan komponen yang menunjang pencapaian tujuan, jika tidak tepat aplikasinya. Oleh karena itu, penting sekali untuk memahami dengan baik dan benar tentang karakteristik suatu metode. Secara sederhana, metode pengajaran bahasa Arab dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu: pertama, metode tradisional/klasikal dan kedua, metode modern. Metode pengajaran bahasa Arab tradisional adalah metode pengajaran bahasa Arab yang terfokus pada “bahasa sebagai budaya ilmu” sehingga belajar bahasa Arab berarti belajar secara mendalam tentang seluk-beluk ilmu bahasa Arab, baik aspek gramatika/sintaksis (Qowaid nahwu), morfem/morfologi (Qowaid as-sharf) ataupun sastra (adab). Metode yang berkembang dan masyhur digunakan untuk tujuan tersebut adalah Metode qowaid dan tarjamah. Metode tersebut mampu bertahan beberapa abad, bahkan sampai sekarang pesantren-pesantren di Indonesia, khususnya pesantren salafiah masih menerapkan metode tersebut. Hal ini didasarkan pada hal-hal sebagai berikut: Pertama, tujuan pengajaran bahasa arab tampaknya pada aspek budaya/ilmu, terutama nahwu dan ilmu sharaf. Kedua kemampuan ilmu nahwu dianggap sebagai syarat mutlak sebagai alat untuk memahami teks/kata bahasa Arab klasik yang tidak memakai harakat, dan tanda baca lainnya. Ketiga, bidang tersebut merupakan tradisi turun temurun, sehingga kemampuan di bidang itu memberikan “rasa percaya diri (gengsi) tersendiri di kalangan mereka”. Metode pengajaran bahasa Arab modern adalah metode pengajaran yang berorientasi pada tujuan bahasa sebagai alat. Artinya, bahasa Arab dipandang sebagai alat komunikasi dalam kehidupan modern, sehingga inti belajar bahasa Arab adalah kemampuan untuk menggunakan bahasa tersebut secara aktif dan mampu memahami ucapan/ungkapan dalam bahasa Arab. Metode yang lazim digunakan dalam pengajarannya adalah metode langsung (tariiqah al - mubasysyarah). Munculnya metode ini didasari pada asumsi bahwa bahasa adalah sesuatu yang hidup, oleh karena itu harus dikomunikasikan dan dilatih terus sebagaimana anak kecil belajar bahasa. Penjelasan:

1.Metode Qowa’id dan tarjamah (Tariiqatul al Qowaid Wa Tarjamah)
Penerapan metode ini lebih cocok jika tujuan pengajaran bahasa Arab adalah sebagai kebudayaan, yaitu untuk mengetahui nilai sastra yang tinggi dan untuk memiliki kemampuan kognitif yang terlatih dalam menghafal teks-teks serta memahami apa yang terkandung di dalam tulisan-tulisan atau buku-buku teks, terutama buku Arab klasik11. Ciri metode ini adalah:

a.Peserta didik diajarkan membaca secara detail dan mendalam tentang teks-teks atau naskah pemikiran yang ditulis oleh para tokoh dan pakar dalam berbagai bidang ilmu pada masa lalu baik berupa sya’ir, naskah (prosa), kata mutiara (alhikam), maupun kiasan-kiasan (amtsal).

b.Penghayatan yang mendalam dan rinci terhadap bacaan sehingga peserta didik memiliki perasaan koneksitas terhadap nilai sastra yang terkandung di dalam bacaan. (bahasa Arab - bahasa ibu).

c.Menitikberatkan perhatian pada kaidah gramatika (Qowa’id Nahwu/Sharaf) untuk menghafal dan memahami isi bacaan.

d.Memberikan perhatian besar terhadap kata-kata kunci dalam menerjemah, seperti bentuk kata kiasan, sinonim, dan meminta peserta didik menganalisis dengan kaidah gramatikal yang sudah diajarkannya (mampu menerjemah bahasa ibu ke dalam Bahasa Arab)

e.Peserta tidak diajarkan menulis karangan dengan gaya bahasa yang serupa / mirip, dengan gaya bahasa yang dipakai para pakar seperti pada bacaan yang telah dipelajarinya, terutama mengenai penggunaan model gaya bahasa, al – itnab at Tasbi’ al Istiarah yang merupakan tren / gaya bahasa masa klasik. Aplikasi Metode Qowa’id dan tarjamah dalam proses pembelajaran;

a.Guru mulai mendengarkan sederetan kalimat yang panjang yang telah dibebankan kepada peserta didik untuk menghafalkan pada kesempatan sebelumnya dan telah dijelaskan juga tentang makna dari kalimat-kalimat itu.

b.Guru memberikan kosa kata baru dan menjelaskan maknanya ke dalam bahasa local/bahasa ibu sebagai persiapan materi pengajaran baru.

c.Selanjutnya guru meminta salah satu peserta didik untuk membaca buku bacaan dengan suara yang kuat (Qiroah jahriah) terutama menyangkut hal-hal yang biasanya peserta didik mengalami kesalahan dan kesulitan dan tugas guru kemudian adalah membenarkan.

d.Kegiatan membaca teks ini diteruskan hingga sekuruh peserta didik mendapat giliran. e.Setelah itu siswa yang dianggap paling bisa untuk menterjemahkan, kemudian selanjutnya diarahkan pada pemahaman struktur gramatikanya12.

2.Metode langsung (al Thariiqatu al Mubaasyarah)
Penekanan pada metode ini adalah pada latihan percakapan terus-menerus antara guru dan peserta didik dengan menggunakan bahasa Arab tanpa sedikitpun menggunakan bahasa ibu, baik dalam menjelaskan makna kosa kata maupun menerjemah, (dalam hal ini dibutuhkan sebuah media). Perlu menjadi bahan revisi disini adalah bahwa dalam metode langsung, bahasa Arab menjadi bahasa pengantar dalam pengajaran dengan menekankan pada aspek penuturan yang benar ( al - Nutqu al – Shahiih), oleh karena itu dalam aplikasinya, metode ini memerlukan hal-hal berikut;

a.Materi pengajaran pada tahap awal berupa latihan oral (syafawiyah)

b.Materi dilanjutkan dengan latihan menuturkan kata-kata sederhana, baik kata benda ( isim) atau kata kerja ( fi’il) yang sering didengar oleh peserta didik.

c.Materi dilanjutkan dengan latihan penuturan kalimat sederhana dengan menggunakan kalimat yang merupakan aktifitas peserta didik sehari-hari.

d.Peserta didik diberikan kesempatan untuk berlatih dengan cara Tanya jawab dengan guru/sesamanya.

e.Materi Qiro’ah harus disertai diskusi dengan bahasa Arab, baik dalam menjelaskan makna yang terkandung di dalam bahan bacaan ataupun jabatan setiap kata dalam kalimat.

f.Materi gramatika diajarkan di sela-sela pengajaran,namun tidak secara mendetail.

g.Materi menulis diajarkan dengan latihan menulis kalimat sederhana yang telah dikenal/diajarkan pada peserta didik.

h.Selama proses pengajaran hendaknya dibantu dengan alat peraga/media yang memadai. Penutup Sebagai penutup, bahwa alur makalah ini lebih menekankan tentang pentingnya: Seorang guru (pendidik) sebaiknya memahami prinsip - prinsip dasar pengajaran bahasa Arab diatas sebagai bahasa asing dengan menggunakan metode yang memudahkan peserta didik dan tidak banyak memaksakan peserta didik ke arah kemandegan berbahasa. Adapun bagi bagi seorang siswa, bahwasanya belajar bahasa apapun, semuanya membutuhkan proses, banyak latihan dan banyak mencoba.

Daftar Pustaka

1.Abdurrahman al – Qadir Ahmad, Thuruqu Ta’alim al – Lughah al – ‘Arabiyah, Maktabah al – Nahdah, al – Mishriyah, Kaira ; 1979.
2.Ahmad al – Sya’alabi, Tarikh al – Tarbiyah al – Islamiyah, Cet. 11, Kaira: tnp., 1961.
3.Ahmad Syalaby, Ta’lim al – Lughah al ‘Arabiyah lighairi al – ‘Arab, Maktabah al – Nahdhah al – Mishriyah, Kairo ; 1983.
4.Anis Farihah, Nazhriyaat Hal Lughah, dar al – Kitab al – Ubnany, Beirut, dar al – Kitab al – Ubnany, 1973.
5.Ibrahim Muhammad ‘Atha, Thuruqu Tadris al – Lughah al – ‘Arabiyah Wa al – Tarbiyah al – Diniyah, Maktabah al – Nahdhah al – Mishriyah, Kairo 1996 M / 1416 H.
6.Jassem Ali Jassem, Thuruqu Ta’lim al – Lughah al – ‘arabiyah Li al – Ajanib, (Kuala Lumpur : A.S Noorden, 1996).
7.Kamal Ibrahim Badri dan Mahmud Nuruddin, Nadzkarah Asas al – Ta’lim al – Lughah al – ajnubiyah, LIPIA, Jakarta, 1406 H
8.Muhammad Jawwad Ridla, Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam (perspektif sosiologi-filosofis). P.T Tiara Wacana, Yogyakarta: 2002.
9.Munir, Nizhamu Ta’lim al – Lughah al – ‘Arabiyah fi al – Ma’had al – Islamiyah, Darul Huda, Skripsi, 1996.
10.Munir M.Ag., Pengajaran Bahasa Arab Sebagai Bahasa Asing, yang terkumpul dalam buku yang berjudul Rekonstruksi dan Modernisasi Lembaga Pendidikan Islam. Global Pustaka Utama, Yogyakarta: 2005.
11.Munir, M.Ag., dkk, Rekonstruksi dan Modernisasi Pendidikan Islam, Global Pustaka Utama, Yogyakarta, 2005,

Daftar Isi

 
Support : Creating Website
Copyright © 2011. Bahasa Arab SDIT - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger