Pentingnya Pembelajaran Bahasa Arab pada Usia Dini - Bahasa Arab SDIT
Headlines News :
Home » » Pentingnya Pembelajaran Bahasa Arab pada Usia Dini

Pentingnya Pembelajaran Bahasa Arab pada Usia Dini

MUHAMMAD RAJAB
Bahasa Arab merupakan bahasa yang unik dibanding bahasa Inggris atau bahasa asing yang lain. Untuk memelajarinya saja, ada beberapa disiplin ilmu yang memiliki perbedaan signifikan. Ilmu Nahwu lebih menekankan pada mabni ¬dan mu’rob (menetukan harkat terkhir). Ilmu Shorof lebih menekankan pada shiyagul kalimat (perubahan bentuk kata). Sedangkan ilmu Balaghah cenderung mempelajari sastra Arab.
Hal lain yang membedakan, satu kata dalam bahasa Arab bisa dipecah menjadi beberapa kata yang berbeda arti, makna, serta kedudukannya. Ini sangat berbeda dengan bahasa Inggris dimana kata yang dapat dipecah dari bentuk dasar kata, kurang lebih lima bentuk kata. Makanya terkadang orang menjadi malas memelajari bahasa Arab sebab banyak kata yang berbeda makna meski hanya berasal dari satu kata.
Sebagai bangsa dengan mayoritas pendidik beragama Islam, tentunya bahasa Arab punya banyak manfaat bila dipelajari. Penulis bukannya menjustifikasi bahwa selain muslim tidak boleh belajar bahasa Arab, namun tidak ada salahnya bila penulis menyebutkan beberapa kelebihan bahasa Arab dalam perspektif Islam. Pertama, bahasa Arab merupakan bahasa kitab suci Alquran.
Tentunya, kita akan bisa memahami Alquran kecuali dengan benar dan baik dari segi nahwu, shorof maupun balaghahnya. Kedua, sebagai ilmu alat bahasa Arab dapat digunakan untuk menggali ilmu pengetahuan, khususnya ilmu-ilmu agama. Karena Islam pada mulanya muncul di negeri Arab jadi ilmu-ilmu Islam mayoritas berbahasa Arab.
Bahasa Arab bisa digunakan menggali ilmu fikih dan hadits serta ilmu-ilmu yang lain.
Untuk meningkatkan minat pelajar terhadap bahasa Arab, hendaknya bahasa Arab diperkenalkan kepada anak sejak dini. Seperti halnya minat pelajar ke bahasa Inggris yang tinggi, dimana salah satunya dikarenakan bahasa Inggris sudah diperkenalkan kepada anak sejak dini. Bahkan sekarang di Sekolah Dasar sudah diajarkan bahasa Inggris. Tentu tidak salah bila bahasa Arab juga diajarkan sejak dini.
Selain itu, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya yang berasal dari barat, terkadang juga menjadi sebab bagi sebagian kalangan untuk tidak mempelajari bahasa Arab. Disebabkan karena waktu yang tersedia terbatas, sehingga tidak ada ruang untuk menyempatkan diri belajar bahasa Arab.
Bagi sekolah-sekolah yang berbasis Islam, pembelajaran bahasa Arab seharusnya lebih diperhatikan dan lebih diperhitungkan dari bahasa yang lain. Satu hal yang perlu diingat, khususnya bagi guru bahasa Arab, bahwa metode yang dipakai dalam menyampaikan pelajaran bahasa Arab kepada anak hendaknya dibedakan dengan metode yang dipakai untuk orang dewasa. Ini penting agar pembelajarannya bisa maksimal.
Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengajarkan bahasa Arab pada anak usia dini adalah dengan membawa alat peraga. Alat peraga ini dimaksudkan untuk lebih menguatkan anak dalam mengingat kosa-kata yang telah diberikan. Jadi, ketika memberikan kosa-kata, anak dapat melihat langsung maksud ataupun arti dari kosa kata tersebut, walaupun guru tidak menulisnya di papan tulis. Anak dapat melihat langsung secara empiris. Jika ditinjau dari segi kognitif, metode seperti ini lebih efektif dari pada menulis arti kosa kata di papan tulis.
Misalnya, seorang guru mau memberikan kosa kata tentang binatang. Maka guru harus menunjukkan gambar atau boneka yang berbentuk binatang. Dengan itu akan lebih cepat ditangkap dan dipahami oleh anak. Karena selain mendengar, visual anak bisa melihat langsung secara empiris. Metode seperti ini jika dikaitkan dengan konsep pendidikan modern, dapat dikatakan sebagai salah satu aplikasi konsep CTL (Contextual Teaching and Learning) yang masih belum dipraktekkan secara menyeluruh oleh para guru, khususnya di daerah-daerah terpencil.
Beberapa penyebab kemalasan dalam mempelajari bahasa Arab di atas sebenarnya bisa menjadi penyemangat bahkan sebenarnya mempermudah kita dalam mempelajarinya. Kita harus sadar akan keunikan tersebut. Misalnya, satu kata bisa menjadi beberapa kata bahkan sampai seratus kata yang berlainan makna dan kedudukan. Ini sebenarnya mempermudah bagi kita dalam menghafal beberapa arti kata, karena kita hanya cukup memecahnya dari satu kata. Contoh, kata kataba (menulis) bisa dipecah menjadi kitabatan (tulisan), kitaban (buku), maktaban (meja), maktabatan (perpustakaan) dan lain sebagainya.
Share this article :

1 komentar:

Jamal Karim mengatakan...

http://jamalkarim246.blogspot.com/

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website
Copyright © 2011. Bahasa Arab SDIT - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger